CHAPTER 401: SEMANGAT DAN RASA GEMBIRA HARUS ADA DI ATAS RASA TAKUT DAN TRAUMA

Menjelang ayah meninggalkan Tamalanrea di tahun 2001, ada semacam pertemuan antropologi internasional. Sempat ayah berinteraksi sedikit, ada sebuah cerita yang ayah ingat sampai sekarang. Ayah lupa detailnya cuma kira-kira begini narasinya, "Kalau sebuah bangsa masih mengurus bagian perut ke bawah, maka sepanjang itu pikiran dan rasanya tidak berjalan."

Narasi itu menurut ayah erat sangat relevansinya dengan kondisi sekarang, terutama dengan kebijakan perintah di tahun 2026 ini yang menaikkan anggaran makan gratis jadi lima kali lipat dan menyerap anggaran Rp 355 triliun. Gokz setahun makan anggaran sebesar itu di tengah kondisi keprihatinan tentang jumlah PHK yang meningkat, kondisi kualitas sistem pendidikan dan kesejahteraan guru yang memprihatinkan, serta kesiapan menghadapi bonus demografi yang mencapai puncaknya di tahun 2035 - 2045. 

Alamak..

Dari sini, rasa kepercayaan lama sejak era Tamalanrea mengemuka kembali ke permukaan, jika proses kemiskinan dan pembodohan di negeri ini memang sengaja didesain oleh kompeni londo-londo ireng yang tidak pernah ditulis dalam buku-buku sejarah formal. Kebenaran yang terus diberangus oleh para penguasa oligarki dan pemilik modal tamak. Alur kebohongan yang terus digulirkan dan dipaksakan jadi kebenaran yang harus senantiasa diyakini masyarakat yang terbodohi. 

Di awal tahun 2026, anggaran pendidikan digerus 29% untuk dialihkan ke proyek tertutup bagi-bagi makan gratis. Sulit tidak mempercayai jika ini hanyalah upaya balas jasa dan bagi-bagi potongan kue antara penguasa terpilih dan para pemodal yang telah mengusungnya menang di kontestasi lalu.

Kepala badan perencanaan pembangunan nasional dan parlemen pun menyetujui proyek bagi-bagi makanan ini stratanya lebih urgensi dibanding penyediaan lapangan kerja, dan ucapan mengenaskan ini disampaikan lugas ke media di tengah keprihatinan jumlah PHK dan kemiskinan yang meningkat di negeri ini. 

Sederhananya atau singkat cerita, upaya menjaga kebodohan dan kemiskinan adalah by design oleh para pemangku kepentingan. Entah oleh penguasa internal, oleh para donatur konglo selama ini, atau bisa jadi by setting arahan negara kuat di luar sana, atau bahkan bisa jadi kolaborasi ketiganya. Sulit mendeteksi fakta demikian, tapi indikasi kuatnya sebenarnya bisa dirasakan oleh nalar dan logika. 

Susah untuk menjaga pikiran ayah untuk tidak mengumpat sumpah serapah pada hal-hal keji seperti ini. Itulah dibutuhkan langkah-langkah kalian sekarang dan ke depan untuk tidak mengiyakan dan takluk dengan hal-hal buruk seperti ini. Tidak perlu melawan frontal, tapi jangan pernah biarkan diri kalian terus bodoh, maka teruslah maju dan berkembang. 

Ya, semangat dan rasa gembira harus bisa ada di antas rasa takut dan trauma. 

Di saat kompetisi semakin ketat, ancaman AI yang terus menguat terhadap produktivitas manusia, potensi perang dunia ke3 di depan mata, kesiapan pemerintah kita entah ke arah mana. Jujur, ayah keliru memberikan suara kepercayaan pada pemerintahan sekarang, salah total. 

Salah satu kekhawatiran terbesar dari kondisi ini adalah situasi keamanan dalam negeri yang semakin tidak kondusif. Beberapa hari lalu, ayah merasa sempat menjadi target krimanalitas di KRL dalam perjalanan pulang kerja. Untungnya, kewaspadaan ayah cukup tinggi dan ayah memilih untuk menghindar sebisa mungkin. Dan alhamdulillah ayah lolos dari niat jahat dua orang pria di KRL tersebut. 

Ya setiap zaman tentu akan ada tantangannya, ada problematikanya, kalau enggak kuat-kuat iman dan keyakinan, sangat mungkin kita didera dengan rasa takut dan trauma. 

Tapi untunglah, ayah merasa cukup dengan Tuhan dan pernah juga menghadapi banyak cobaan hidup. Dari situ alhamdulillah, ayah percaya jika semangat untuk melanjutkan hidup hingga di titik selesai dan rasa gembira harus bisa di atas rasa takut dan trauma. 

Kelak di masa kalian datang untuk mandiri, jika bisa pergilah mengejar beasiswa ke luar negeri ini. Ke Eropa atau China kalau bisa, Jepang juga mungkin seperti Jerome Polin. Australia juga boleh. Berkembanglah kalian anak-anakku, jangan terkungkung dan terpekur di dalam negeri ini yang tidak berkembang ini. 

Segini saja dulu narasi kali ini, semoga ada bobot dan manfaatnya dalam perjalanan kalian nanti.

Bogor, 31 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 10: RAJA JUDI KECIL DAN DERETAN BOTOL BIR

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 75: KENAPA AKU SUKA MENULIS (TENTANG JATUH)?