CHAPTER 410: MY ORDINARY LAST DANCE
Tepat 1 Juli 2026, satu di antara sahabat terbaikku berpulang ke Rahmatullah di usia 50 tahun. Masih tergiang kisah kami dulu saat masih remaja di kamarnya yang terletak di gang kecil di samping SMPN 3 Makassar. Kepulan asap Marlboro merah dengan secangkir kopi diiringi musik dari kaset GNR atau Slank di alat pemutar miliknya. Hanya seperti itu rasanya kami berdua sudah merasa cukup keren di masanya. Tidak banyak cerita verbal mengemuka, hanya sebatas ngopi, mengisap rokok, dan sekadar menikmati alunan musik. Ya, meski demikian sudah cukup membuat Acho Amril sebagai kategori sahabat rasa saudara kental di masa remaja, zaman putih abu-abu. Meski posturnya kecil, tapi Acho Amril lincah dan gesit. Ia juga tidak pernah membiarkanku berkelahi sendiri jika ia ada. Momen-momen kenangan itu kerap kali mencuat di kepalaku, termasuk ketika ia kembali ke Sang Khalik di tanggal tersebut di atas. - Kepergian Acho Amril membuatku coba mengingat apa makna dari setia...