CHAPTER 402: "WHY" YANG MENGGERAKKAN DIRI
Kamis pagi 5 Februari 2026 jadi momen yang prestisius buat ayah, karena dapat melihat Pung Adi berbicara selama kurang lebih dua jam tentang perjalanan hidup beliau hingga bisa berada di titik setinggi sekarang.
Ayah jadi makin percaya kalau Pung Adi itu lebih mirip perjalanan Messi ketimbang Ronaldo, karunia kemampuannya yang brilian lebih menyerupai "gift" dibanding "kerja keras dan kedisiplinan". Ya, kedua unsur terakhir itu tetap ada dan kuat sebagaimana Messi tentunya.
Argumentasinya cara dan gestur Pung Adi bicara dan bergerak selama momen tersebut lebih menunjukkan kepada sosok-sosok orang jenius seperti figur Habibie, dibanding karisma pemimpin yang kaku pada umumnya. Rasanya audiens di Meeting Room - Artotel Senayan mayoritas akan sepakat dengan pandangan ayah ini.
Di situlah pula momen ini jadi berharga tinggi, karena rasa kejujuran lebih kuat dan dominan dibanding pola pemaparannya. Nah, karena itu pula unsur kelebihan individualnya lebih mengemuka dan melekat, serta kuat jadi milik personal dan muskil untuk ditiru, tapi sarat nilai untuk dipetik.
Kata Pung Adi di pagi itu, faktor "what" dan "how" memang penting, tapi esensi pertamanya "why" yang akan menggerakkan dan memotivasi kita untuk bergerak kuat setiap pagi. Memotivasi diri untuk membumikan mimpi yang tinggi dan mengkonversinya menjadi manfaat bagi orang banyak.
Ya, belajarlah dari Pung Adi. Beliau adalah kakek kalian, meskipun usianya hanya beberapa tahun di atas ayah dan kami terhitung teman kecil. Pung Adi adalah Bintang sejak belia. Darah Pung Adi juga mengalir di darah kalian, karena kita adalah keluarga dekat.
Hal penting lain dari momen prestisius di pagi itu adalah karakter Pung Adi sebagai seorang risk taker ulang dan andal. Beliau berani meninggalkan zona nyaman untuk belajar dan memulai dari titik yang lebih rendah untuk kemudian naik ke posisi yang lebih tinggi dibanding sebelumnya, bahkan jauh lebih tinggi adanya.
Tidak ada urusan soal jumlah usia dalam kegigihan atau sikap persisten.
Ini adalah kepingan puzzle tentang perjalanan Pung Adi yang baru ayah ketahui sekarang, setelah kami berpisah di Makassar. Beliau pindah ke Bandung sejak masa SMA dan kuliah dengan beasiswa dari pak JK, yang kemudian menjadi tempat beliau mengabdi hingga saat ini.
Perjalanan hidup Pung Adi yang sedemikian tinggi ini jadi mengingatkan ayah pada sepenggal narasi yang sangat terkenal di buku Andrea Hirata, "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."
Pesan buat kalian anak-anak ayah dari perjalanan Pung Adi ini adalah sesuai judul narasi di atas, carilah dan temukanlah "why" yang ada pada diri kalian, hal yang akan menggerakkan dan memotivasi kalian untuk terus bergerak serta bersemangat menjalani setiap waktu dalam hidup. Jangan takut juga mengambil risiko dan mencoba hal-hal baru yang kalian yakini dapat mengantarkan pada pengalaman hidup yang baru, tentu saja dalam hal yang baik yah.
Itu saja dulu, teruslah berjalan dengan semangat dan kegembiraan dalam hati. Masa-masa sulit kemungkinan tetap ada dan harus dihadapi, jalani dan teruskan perjalanan.
Sebagai penutup, ayah jadi ingat satu pesan lagi dari seorang kakak kelas ayah di zaman kuliah. Beliau bilang, saat di perempatan jalan dan kamu kebingungan menentukan arah, ingatlah motivasi awal dimana perjalanan ini dimulai.
"Why?"

Komentar
Posting Komentar