CHAPTER 387: KITA ADALAH APA YANG KITA LIHAT, KONSUMSI, DAN RESPON

Sepekan terakhir jelang akhir Agustus 2025, kondisi kesehatan ayah terasa sedikit menurun. Bu Yon sih sarankan ke dokter, cuma ayah masih selalu malas untuk hal itu. 

Dengan adanya internet, menurut ayah cukup menghubungkan gejala yang dirasakan tubuh dengan informasi medis yang ada di jagat maya. Kalkulasinya, asam lambung ayah yang kemungkinan besar naik. Ditandai dengan perut kembung dan tenggorokan yang rada seret. 

Penyebab terbesarnya rasanya kopi Nescafe pahit tanpa gula yang memang doyan ayam konsumsi. Setelah tahu penyebabnya, mulailah dihindari. Ya, toh ayah sudah bertahun terbiasa menghindari gula, sebisa mungkin juga menghindari gorengan, porsi makan dijaga paling kalau ke warteg dekat tempat kerja cuma setengah. Yang penting perut terisi, tidak berlebih. 

Seperti judul tulisan ini, menurut ayah, kita adalah apa yang kita lihat, konsumsi, dan respon. 

Saat ini, negeri ini semakin cenderung tidak baik-baik saja. Cara pandang pemerintahnya plus kebijakannya terasa makin kontras dengan kondisi masyarakat. Harga barang-barang pokok naik, angka PHK meninggi, ranah target pajak makin meluas, tunjangan jajaran pemerintah naik, budaya korupsi terus tumbuh dan bentuk hukumannya cenderung sangat tidak setimpal. 

Suatu waktu kata pak presiden menenggarai soal korupsi, "...Bagaimana dengan nasib anak-anaknya (koruptor) mereka? Apakah harus menanggung dosa orang tuanya?!"

Walah, hebat pisan memang omon-omonnya. Mestinya premisnya, bagaimana dengan nasib dan hak-hak banyak anak-anak negeri ini yang dana untuk pengembangan sumber daya dirinya dikorupsi oleh segelintir kecil, termasuk salah satu contoh terbaru seorang penjilat yang hanya dalam waktu sembilan tahun dapat menduduki posisi wamen?!

Ya, skema politik dan hukum negeri kita sudah sekian lama diisi dan mengkonsumsi arus buruk, jadi kalau tumbuh besarnya ke arah negatif yah karena arahnya memang demikian selama berpuluh-puluh tahun. 

Mengusik? Iya, tapi tanpa power yang cukup merespon hal-hal buruk yang semakin membesar justru cenderung berpotensi menumbuhkan endapan psikologis di dalam diri. Sederhananya malah jadi penyakit. Jadi ya terpaksa dibiarkan sepanjang belum betul-betul terpojok yang memaksa melawan balik, tapi kalau sekarang lebih belajar untuk tidak merespon meskipun tentu saja merugikan. 

Orang-orang pintar di sana memiliki strata pendidikan super tinggi, namun ternyata tidak serta merta memiliki kualitas empati atau jiwa welas asih yang sama tingginya pula. Mereka laksana hyena yang menurut ChatGPT lebih kuat dan lebih brutal ketimbang serigala. Hyena juga dinarasikan memiliki kemampuan oportunis yang tinggi, dan dibekali kemampuan rahang untuk menghancurkan tulang. 

Ngeri? Ya, ngeri. Sebisa mungkin memang menghindar dan melanjutkan hidup. Berdoa jangan bersua dengan mereka dalam kehidupan nyata. 

Apakah itu sikap kerdil? Hmm, bisa jadi kalau dikonklusikan sesaat, tapi ini lebih ke taktis. Kemampuan bertarung kita beda soalnya. Mereka punya kemampuan bertarung agresif dan mengkoptasi, kita punya kemampuan bertahan dan mengefisiensikan energi pada hal yang lebih proritas dan konstruktif positif. 

Terpenting, kita dapat mengenali dan mendeteksi kemampuan bertarung kita masing-masing, lalu mengoptimalkannya.

Pola kedua di atas memang terkesan lebih sederhana, feedback-nya pun tentu saja cenderung setara sederhana pula. Secara esensi pun sudah terefleksi dari judul narasi kali ini. 

Itu saja dulu catatan hidup kelas secangkir kopi buat hari ini. 

-

Pejaten, 27 Agustus 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 10: RAJA JUDI KECIL DAN DERETAN BOTOL BIR

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 75: KENAPA AKU SUKA MENULIS (TENTANG JATUH)?