CHAPTER 389: PELIKNYA SITUASI NEGERI DAN BAYANGAN KEHIDUPAN KALIAN NANTI
Saat ayah menulis ini Selasa 9 September 2025 di Pejaten, keadaan negeri ini nampaknya akan tidak baik-baik saja hingga beberapa tahun ke depan. Kemarin baru saja orang nomor satu penyelenggara negara menggelar pergantian lima menterinya.
Sampai di sini ayah semakin percaya, latar belakang dan bagaimana kita tumbuh itu sangat berpengaruh dalam membentuk cara pandang, cara berpikir, dan sikap kita. Ayah percaya orang nomor satu tersebut sejak kecil lahir di atas permadani, tidak heran jika sikap dan cara pandangnya sangat lebar jurang perbedaannya dengan sikap dan cara pandang rakyat kebanyakan.
Dari sini, maaf kalau ayah menyebutnya sebagai "karakter tolol". Tapi, dalam hidup keseharian pun kita tidak jarang ketemu dengan orang-orang berkarakter tolol seperti itu. Salah satu indikatornya adalah merasa benar meskipun tindak-tanduknya salah dan merugikan orang lain. Bisa jadi ini menjadi deskripsi orang pengidap NPD yang cukup marak muncul di jagat maya saat ini.
Buat kita yang terkena atau bersingunggan langsung dengan ketololan semacam ini seyogyanya tentu gusar dan bahkan marah. Sebisa mungkin sih kemudian menghindar saja, toh keributan belum tentu menjadi solusi dapat lebih memperbaiki keadaan atau situasi. Tapi ada kalanya mungkin kita sudah terpojok dan tidak ada pilihan selain untuk melawan. Jika sudah demikian, pilihan terbaik memang untuk langsung bertarung berhadapan.
Dari titik ini, ayah mungkin harus bercerita tentang sosok anak muda bernama Ferry Irwandi. Aksinya jujur terlalu berani, meski di sisi lain sikap dan keputusan para elit penyelenggara saat ini memang sudah ada di titik yang membuat rakyat terpojok dan mesti melawan. Bayangkan saja, pajak terus dinaikkan dari multi sektor, Koruptor kelas kakap dan pelaku kekerasan yang menyebabkan kematian malah mendapat pengurangan masa hukuman, bahkan ada yang telah dibebaskan. Di sisi lain jumlah PHK semakin bertambah, pencari kerja semakin marak dari berbagai usia. Sementara jumlah kabinet di penyelenggara negara makin gemuk, dan juga tunjangan mereka semakin tinggi.
Sederhananya, rakyat diperas untuk menghidupi segelintir kecil elit-elit di kursi kekuasaan penyelenggara negara, dan wujud perhatian kembali untuk kesejahteraan rakyat semakin minim.
Entah apa yang akan terjadi di masa depan nanti saat kalian sudah dewasa. Semoga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dalam hal kebaikan. Semoga cerita hidup kalian nanti seru-seru, penuh kebahagiaan, dan kalau ada ujian hidup semoga bisa semakin menguatkan kalian masing-masing sebagai manusia.
Sampai di sini setelah sempat jeda beberapa jam karena mentok ide, di Pejaten sudah lepas pukul empat sore. Sebentar lagi jam kerja usai, saatnya bergegas kembali menunggu busway 3/4 nomor 6U ke Pasar Minggu, setelah itu lanjut jalan kaki ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan dengan KRL.
Oh iya, pada akhirnya ayah juga mesti menyadari hanya bisa mengantarkan kalian sejauh mungkin, hingga di titik ayah harus berhenti nanti, dan kalian akan berjalan ke kehidupan kedewasaan diri masing-masing.
Sebelum sampai situ sebagai penutup catatan sore ini, ayah ingin bilang cerita hidup di negeri memang tidak mudah, tapi sejauh ini ayah dan mungkin juga bunda kalian toh bisa melewatinya dengan segala hiruk-pikuk ataupun situasi roller-coaster yang telah terjadi.
Di ujung perjalanan kemampuan ayah dapat mengantar kalian secara fisik, tentu selanjutnya hanya ada doa semoga kalian baik-baik saja dan kuat terus, bahagia juga selalu, Aamiiin.

Komentar
Posting Komentar