CHAPTER 393: ALIH-ALIH PENYELENGGARA NEGARA

"Walaipun Indonesia terkaya di dunia, tetapi selama sains tiada merdeka, seperti halnya politik negaranya, maka kekayaan Indonesia tidak akan menjadikan penduduk senang, melainkan semata menyusahkan, seperti 350 tahun belakangan ini." (Tan Malaka, Madilog)


Ya, sedemikian busuknya skema politik negeri ini berjalan. 80 tahun perayaan kemerdekaan negara yang berjalan semu, karena kursi-kursi elit penyelenggara negara masih dikuasai oleh budaya alih-alih dan berdalih. 

Perihal bagi-bagi makan gratis yang dijalankan oleh perwakilan militer dan bukan orang ahli di bidang gizi adalah satu di antara sampel buruk yang terbaru dari pandangan tersebut. 

Kursi-kursi elit yang dikuasai orang-orang busuk yang menjadikan bidang politik untuk mengeruk kekayaan negeri ini untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompok kecilnya. Mereka masih berpandangan rakyat adalah instrumen luar yang harus dikorbankan dan dibodohi dengan budaya alih-alih mereka. 

Semakin besar indikasi jikalau kita adalah negara pertama yang gagal memanfaatkan potensi bonus demografi. Sistem pendidikan yang carut marut dan tambal sulam, apresiasi untuk kehidupan tenaga pengajar yang masih terus memprihatinkan. Apalagi yang bisa diharapkan pada penyelenggara negara ini dari waktu ke waktu dengan budaya busuknya yang sudah mengakar dan menjamur?!

Sistem pendidikan, apalagi orientasi pada perkembangan sains. Saat narasi ini dibuat 28 September 2025 dan masukkan kata kunci "anggaran pendidikan dipangkas" di Google akan ketemu data jika anggaran pendidikan dipangkas Rp 8 triliun, sementara di sisi lain biaya untuk MBG di tahun 2026 naik 96%. Apa gak anjay itu?!

Ya, tren budaya alih-alih dan berdalih memang sudah terlalu mengakar. Jangankan pada sektor pendidikan, pada bidang yang jauh lebih sensitif yaitu di departemen agama yang langsung berurusan pada soal akhlak bahkan ketuhanan pun berani dikorupsi. Terbaru soal korupsi dana haji tahun 2024 yang diduga mencapai Rp 1 triliun. 

Berpikir dan berprasangka baik pada elit penyelenggara negara tentu membuat pening kepala, menyesakkan dada, memicu endapan penyakit psikologis, dan merangsang untuk mencaci maki. Apakah lantas harus bangkit melawan seperti beberapa waktu lalu? Sebagian pihak seperti gerakan di akhir Agustus 2025 adalah solusi untuk melakukan perlawangan pada aksi semakin kesewenangan pemerintah, meski hasilnya harus dikatakan minim dan sesaat, tapi setidaknya masih ada hasilnya. 

Kalau kalian anak-anakku tanyakan ke ayah, apakah akan melakukan langkah serupa? Ayah lebih memilih langkah yang lain. Akan teramat melelahkan dan menguras banyak energi melawan tabiat buruk mereka. Ayah percaya, siapapun yang masuk ke kursi elit politik negeri ini akan sulit terus menjadi orang baik. Bisa jadi orang-orang seperti KDM itu langkah, bisa jadi lho yah.. karena ayah juga mengikuti sepak-terjangnya dari digital media semata. 

Ayah lebih memilih untuk meneruskan langkah, memanfaatkan waktu untuk berbuat sebaik dan sepositif mungkin, karena hasilnya lebih jelas. Anggap saja para elit penyelenggara negara itu seperti dementor di kisah J.K. Rowling, dan teruslah berdoa dan berharap semoga tidak bersua dengan mereka. 

Ayah percaya banget sebaik-baiknya pelindung adalah Allah SWT itu sendiri.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 10: RAJA JUDI KECIL DAN DERETAN BOTOL BIR

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 75: KENAPA AKU SUKA MENULIS (TENTANG JATUH)?