CHAPTER 392: NEGERI BLANKZAK
Sampai hari ini, ayah masih gak mengerti apa urgensi proyek makan bergizi itu dalam kondisi miris PHK yang makin meningkat. Selain tentu kalau ada niat busuk di belakangnya itu lain soal.
Ya, kemarin dalam perjalanan pulang kerja di KRL, ayah mikir betapa busuknya budaya dan skema kerja politik di negeri ini. Kasus yang diungkap selebiriti Leony tentang biaya konsumsi rapat di Pemkot Tangsel yang mencapai Rp 66 miliar dan biaya perjalanan dinas mencapai Rp 117 miliar.
Sudah bukan rahasia lagi sih sebenarnya jika biaya untuk naik ke kursi kepemimpinan politik di negeri ini memakan biaya sangat besar semasa kampanye, termasuk biaya ampau semacam serangan fajar. Dengan skema kerja seperti itu memang sulit orang baik dengan sekadar niat tulus berbakti pada negeri bisa naik. Alih-alih upaya balik modal dan cari untung termasuk dengan manipulasi dana pajak masyarakat jadi terkesan lumrah.
Lumrah yah, bukan berarti baik dan dimaklumi, tapi rasanya sulit atau muskil untuk diubah. Soalnya selama ini tumbuh kembang alurnya yah demikian.
Di antara atmosfer super busuk itu, langkah kaki memang harus melaju hingga di penghujung masing-masing, termasuk ayah. Semakin ke sini ayah semakin percaya jika kalian hanyalah titipan dengan takdir masing-masing. Tugas ayah yah sebatas menjalankan peran sebagai ayah sebaik-baiknya.
Itupun tidak mudah, penyakit asam lambung kemarin sore menusuk banget di ulu hati mulai jam 2 siang sampai jam pulang. Makanya ayah rasanya gak kuat kalau harus pulang dengan busway kemarin, dan akhirnya pesan gojek motor sampai stasiun Pasar Minggu. Di KRL pun rasanya gelap dan menusuk banget di dada. Sampai di stasiun Universitas Pancasila rasanya muak dan mual, agak panas dingin, dan tubuh rasanya pengen ambruk. Cuma ayah harus tahan sebisa mungkin daripada dicaci maki orang banyak di jam pulang kerja seperti itu.
Untungnya selepas stasiun UI dan beberapa kali cegukan, kondisi agak membaik dan masih bisa jalan sampai kawasan Ken Arok dan dijemput abang Nu.
Beberapa hari terakhir kayaknya kondisi ayah lagi kurang oke dan agak awut-awutan. Karakter sumbu pendek pun sempat terusik di stasiun Citayam hari Minggu lalu 21 September dan Senin 22 September di Busway. Untungnya kedua calon lawan cuma masing-masing bapak-bapak kebanyakan bacot yang agak gentar bertarung fisik. Sulitnya kalau ada yang jual, ayah masih gak bisa sama sekali gak beli. Padahal Bundamu sudah beberapa kali mengingatkan mendekati usia gocap sebaiknya lebih kontrol diri. Cuma kalau ada pemicu, terkadang ayah masih sulit tampikkan untuk lupakan dan abaikan, cenderung ditanggapi.
Semoga sih gak ada lagi kontak-kontak fisik sampai usai finish nanti.
Semakin ke sini, ayah juga semakin percaya apa yang kita percaya, lihat, konsumsi sangat mempengaruhi sikap dan gaya berpikir kita. Jadi baik-baiklah kalian menentukan langkah dan mengambil keputusan.

Komentar
Posting Komentar