CHAPTER 404: MEKANISME PERTAHANAN TERBAIK

Banyak hal kebijakan super brengsek yang terjadi akhir-akhir ini di pemerintahan. Saking banyaknya, jadi speechless mau komentari atau respon yang mana. Menurut ayah, ini pemerintahan terburuk yang pernah terjadi selama sejarah negeri. 

Satu di antara kebijakan tentu yang paling buat banyak orang gusar adalah digerusnya dana pendidikan untuk program makan-makan yang sepertinya buat membayar para bohir penunjang saat kampanye. 

Dari sini, premis jika upaya pembodohan dan kemiskinan dibiarkan secara struktural selama sejarah republik semakin valid dan sahih. Bayangkan kebijakan untuk urusan perut ke bawah yang bakal jadi tokai, berada di atas kebijakan pengembangan kemampuan akal dan rasa. Gaji-gaji guru tetap rendah, dan saat PHK tengah merajelela serta potensi bonus demografi di depan mata belum ada bahkan semakin jauh untuk diterapkan atau diputuskan.

Ayah pikir, orang-orang yang sukses duduk di kursi-kursi penting dan krusial di pemerintahan bukan karena kemampuannya dan cita rasa empatinya yang tinggi, melainkan karena kemampuan menjilat, manipulasi data, dan tingkat kelicikannya yang level super ahli. 

Sederhananya, ruang pemerintahan dipenuhi oleh para berandal super cipoa yang telah turun temurun, beranak pinak, bahkan telah membuat sarang permanen yang sejarah struktur muskil untuk diberangus bahkan oleh Ethan Hunt sekalipun. 

Manipulasi fakta terang-terangan, dan perilaku yang mengarah kuat ke arah tirani jelas semakin terang  benderang. Entah berapa lama rakyat negeri ini dapat kuat bertahan dalam keadaan yang semakin menekan ini, dan dalam keadaan makin terdesak hukum alam tentu mencari keseimbangannya. Sejarah pun telah membuktikan tidak ada kekuatan manusia yang super absolut. Bahkan di negeri super adidaya pun yang arah tahun hingga kini belum robound kondisi ekonomi dan level kesejahteraan masyarakatnya sejak tahun 2008. Bisa saja malah lebih buruk, namun ditutupi seperti biasa dengan paradigma "white supramacy". 

Dalam kondisi yang semakin memprihatinkan seperti sekarang ini, tentu logika dan akal sehat semakin rapuh menjadi amunisi untuk melahirkan solusi. 

Ayah berpikiran, meski banyak orang masih berpandangan jika uang adalah supremasi tertinggi, namun dalam beberapa fakta ayah menemukan kenyataan uang yang lebih banyak tidak serta dapat membawa suasana gembira dan keriangan yang lebih tinggi. Soal rasa dan suasana menurut ayah adalah "given" dari Semesta. 

Soal Semesta ini pula seperti sebelum-sebelumnya menjadi variabel penutup cerita-cerita ayah. Dalam kondisi penuh cobaan dan tekanan, mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa-doa dan ibadah adalah bentuk upaya mencari keselamatan tertinggi agar terhindar dari marabahaya, termasuk dari rentetan blunder kebijakan dari pemerintah yang sepertinya akan berlangsung terus menerus dalam waktu cukup lama ke depan. 

Sebagai insan ciptaan Semesta, kita memang dibekali kemampuan untuk berusaha baik secara horizontal maupun vertikal, dan setahu ayah kita memang diminta melakukan keduanya. Dari setiap upaya terbaik itulah di setiap di ujung jalan akan ada uluran bantuan dariNya. 

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Semesta yang Maha Pengatur segalanya di jagat raya. Kita seperti kata-kata legendaris Einstein, "Kita hanyalah butiran debu di alam semesta yang maha luas."

Tidak ada yang perlu khawatirkan atau risaukan berlebihan, berusahalah tetap tenang di setiap titik perjalanan agar keputusan terbaik masih dapat dihasilkan, bertahan jika di tengah badai datang untuk tidak putus asa padaNya, serta tetap tenang mengontrol diri saat kesenangan tengah melingkupi. 

Ini hanyalah perjalanan sebentar di bumi, kuat-kuatlah berjalan dan tetap percaya pada setiap keputusanNya. Berbaik sangka selalu padaNya, namun tetap waspada dengan kebijakan-kebijakan super dungu dari manusia tamak dan pongah di luar sana karena itulah yang membuat kita tetap eling sebagai manusia merdeka yang terus belajar menghadapi dan memperbaiki diri dari setiap kesulitan dan masa senang sekalipun. 

Sudah Adzan Subuh, ayah mau siap-siap Shalat dulu.

-

Bogor, 22 Februari 2026

04:45 WIB  

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 402: "WHY" YANG MENGGERAKKAN DIRI

CHAPTER 401: SEMANGAT DAN RASA GEMBIRA HARUS ADA DI ATAS RASA TAKUT DAN TRAUMA