CHAPTER 405: BINIKU
Sudah beberapa waktu lalu, aku ingin menulis ini. Bukan hal baru memang, ini lagi-lagi soal biniku.
Setelah lama perjalanan dengan banyak kerikil tajam dan juga jalanan terjal, kadang pernah juga berada di ujung jurang tanpa jalan keluar yang terlihat dari mata manusia biasa sepertiku. Tentu saja ada rasa dan suasana senang juga yang dilalui layaknya siklus manusia biasa pada umumnya.
Ya kehidupan kami memang tidak sempurna, banyak celah kelemahannya. Tapi (salah satu kata khasku dari dulu untuk menolak menyerah), jika tidak bersamamu harus bersama siapa lagi aku melewati keseruan ini.
Ya, ada banyak rasa suka telah timbul dan ada di sepanjang perjalanan lalu, Tapi (lagi-lagi kata kesukaanku hadir :d), bersamamulah aku melewati masa terlama dan kesesuaian terjauh.
Ya, aku bukanlah tipe manusia yang nyaman dengan banyak orang dan keramaian sejak kanak-kanak. Ruangku selalu terbatas dengan sedikit orang, Ruang seperti itu justru yang membuatku nyaman, tidak kelelahan. Dan, dirimulah titik manusia terjauh dan terlama yang telah menemaniku di ruang sunyiku. Saat aku jatuh dan terasa tidak bisa berdiri lagi, dirimu menjadi kiriman Tuhan terbaik yang menemaniku, setia tetap berada di sampingku.
Jika beberapa orang menganggap ibunya adalah tempat terbaik di muka bumi, aku tidak seberuntung itu. Aku hanya punya dirimu, biniku tersayang.
Dalam hidupku yang tidak banyak pinta dan mengalir saja, ada satu alasan aku bertahan untuk tetap merasa senang dan melanjutkan perjalanan, berjuang. Ya, itu adalah dirimu biniku.
Tak banyak pinta seperti biasa, jika hanya ada satu permintaan abadi. Aku hanya ingin terus bersamamu tanpa tepi, yonna kusman.
Itu saja, Tuhan.
-
Bogor, 1 Mei 2026

Komentar
Posting Komentar