CHAPTER 382: JELANG 18 TAHUN BERSAMA

Waktu ayah nulis ini masih 3 hari jelang 18 tahun usia pernikahan ayah dan bunda. Masih tanggal 18 Juli 2025, pukul 04:40 WIB, tapi gak apalah dimulailah catatannya mumpung inget

Sampai di titik ini, ayah mulai mengerti kenapa pernikahan itu adalah bentuk ibadah yang panjang, karena isinya bukan hanya hitam putih dan salah benar. Pasalnya, ada saja kesalahan yang dilakukan sepanjang perjalanan pernikahan. Tapi, di situlah ujiannya. Pernikahan bukan soal lagi soal salah dan benar, tapi lebih jauh lagi soal kebesaran jiwa untuk saling mengerti, memahami, dan memaafkan. 

Pada akhirnya, ayah harus menyadari kami adalah hanya dua manusia biasa yang masih ingin bersama, satu sama lain. Jauh dari kesempurnaan pada faktanya. 

Kami pun rasanya masih terus berupaya belajar dari waktu ke waktu untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat. 

Sepanjang perjalanan bersama pun sebagai relasi manusia pada umumnya ada tawa bahagia dan tangis sedih yang mewarnai. Apapun warna yang muncul termasuk ujian hidup sekaligun seyogyanya disyukuri sebagai nikmatNya, untuk semakin menguatkan partautan hubungan kami. 

Menggandeng telapak tangan bundamu masih selalu menjadi kesenangan tersendiri buat ayah. Tidak bisa diceritakan lebih detail rasa dan maknanya dalam kata. Ini lebih ke desiran yang mengalir dalam diri dan mendinginkan, menyejukkan, kira-kira seperti itulah. 

Jelang 18 tahun bersama, entah apa maknanya, yang jelas ada suara di dalam hati kecil untuk bisa dapat melajutkan perjalanan ini tanpa tepi.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 10: RAJA JUDI KECIL DAN DERETAN BOTOL BIR

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 75: KENAPA AKU SUKA MENULIS (TENTANG JATUH)?