Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

CHAPTER 398: PILIHAN UNTUK TERUS MENGGELINDING

Gambar
Di negeri ini, setelah sekian lama ayah masih meyakini satu hal jika ada pola kebohongan yang senang digulirkan para pemangku kepentingan secara terus menerus untuk membentuk rekayasa fakta. Dan, dengan karakter yang rendah kemampuan filter dan juga minim literasi berkualitas, pola ini jadi banyak dikonsumsi masyarakat.  Tidak heran jika masyarakat negeri ini sejak lama hidup di dalam realitas yang terkonstruksi secara terpola. Sederhananya ilusi realitas.  Fakta lain, ada saja orang-orang yang dapat memanfaatkan celah ini sebagai peluang dan mereka berhasil mendapatkan keuntungan yang bisa jadi besar. Bahkan ayah meyakini, bahkan posisi pun dapat diraih oleh orang-orang berkarakter demikian.  Ya, di negeri ini kemampuan manipulasi dibalut kontroversi dapat menjadi bekal yang lumayan untuk sukses. Meski tentu saja faktor keberuntungan atau garis nasib juga menyertai keberhasilan mereka. Mungkin saja Tuhan ingin menunjukkan jika aura gelap pun bisa duduk di kursi kekuasaan...

CHAPTER 397: HARAPAN

Gambar
Rasanya setiap manusia normal akan memiliki harapan jika setiap akhir cerita sedianya berakhir bahagia. Tapi takdir hidup biasanya punya keputusannya sendiri, tanpa dapat diintervensi oleh setiap manusianya.  Aku pun demikian, pengen banget di sisa hidup dapat berakhir bahagia. Cita-citanya ingin mengantarkan anak-anak hingga cukup mandiri dan dewasa, serta membahagiakan pasangan hidup sebelum sepenggal kesempatan napas terakhir terjadi. Rasanya itu saja yang menjadi motor penggerak untuk berjalan dan memulai hari setiap pagi, serta pulang tetap semangat setelah senja berganti datangnya awal malam.  Hingga gelombang-gelombang, atau bisa jadi ombak kehidupan datang cukup tinggi menguji ketegaran jejak kaki berpijak.    Di kepalaku tergiang, bagaimana jika ceritaku juga tidak berakhir menyenangkan?! Haruskah aku kecewa dan sedih, lalu merutuk.. Hmm, jawaban terkuatnya masih entahlah.. Pikiran masih belum bisa memformulasi jawaban lebih jauh yang melegakan atau bahkan m...

CHAPTER 396: MAKASSAR

Gambar
Entah kenapa setiap kali hendak jatuh dan merasa di tepi jurang kehidupan, ayah selalu mengingat satu tempat di bumi yang namanya Makassar.  Mungkin ini yang disebut kerinduan pada kampung halaman. Pikiran ayah masih sering terngiang jika kota ini yang masih berkenan memeluk ayah lebih hangat lebih baik, seperti perwujudan kasih Tuhan dalam bentuk fisik tapi bukan dalam format manusia.  Mungkin bisa jadi ini hanya memori di pikiran ayah, mungkin di kenyataannya tidak demikian. Tapi memori itu masih sering kuat menyala di dalam diri ayah.  Meniti jalan setapak demi setapak di sana, meski mungkin saja kondisi riilnya sekarang sudah teramat asing pada ayah, tapi rasanya tetap gak mengapa. Seringkali di pikiran ayah, terbersit pikiran untuk menghabiskan masa tua dan sisa umur di sana. Berjalan kaki mengitari jalan-jalan kota, hingga akhirnya penghujung napas terakhir tiba dan saatnya perjalanan di bumi manusia ini berakhir menuju fase berikutnya.  Ayah tidak tahu apakah ...

CHAPTER 395: MENGHINDARI

Gambar
Judul di atas kesan negatifnya kuat, tapi ayah punya alasan untuk itu. Terutama untuk pertimbangan kesehatan mental, psikologis, hati, dan pikiran.   Di tengah dunia yang berjalan makin cepat, dan banyak hal-hal yang absurd terjadi di luar sana dan mendapat pemakluman, ayah berusaha banget menjaga kesehatan mental dan pikiran. Tentu saja tekanan tetap datang, khususnya masalah kejar-kejaran kebutuhan pemenuhan ekonomi di rumah. Ya, tidak ada makan siang gratis. Bahkan anggaran MBG pun kabar santernya menggerus dana alokasi pendidikan dan budget transfer ke darah (TKD) dipotong signifikan oleh pemerintah pusat yang menyebabkan para gubernur berbondong-bondong melakukan protes ke pusat tepatnya ke menteri keuangan di awal Oktober 2025 ini.  Ya, bisa jadi negeri ini menjadi negeri pertama yang kabarnya gagal memanfaatkan bonus demografi. Baru saja kemarin, ayah baca lagi kalau dana kebun binatang di Bandung dikorupsi. Gila gak?! Rezeki binatang saja disunat oleh orang-orang ...

CHAPTER 394: TENTANG OM GUZA

Gambar
Senin 29 September 2025, sebuah kabar agak menggelegar sampai langsung di telinga ayah di tempat kerja, "Der, saya terakhir besok. Tidak diperpanjang." Jujur, harus ayah akui semua orang punya cara, kiat, dan mekanisme pertahanan masing-masing dalam menghadapi cobaan hidup. Om Guza, seorang kawan baik di tempat kerja ini punya ketenangan emosi dan penataan serta penempatan sikap yang cukup mengagumkan. Tenang dan pintar dalam positioning. Ia andal dalam bersosialisasi termasuk di kalangan atas dan para petinggi di tempat kerja, termasuk ke putra mahkota. Gambaran sikap yang kontras dan tidak pernah ayah miliki. Seorang kawan di zaman kuliah mengabarkan jika di masa mudanya Om Guza adalah siswa yang level kepintarannya di tingkat provinsi dan berhasil mendapat beasiswa mulai dari SMA di Bandung hingga S1 di UGM. Dari situ saja sudah kelihatan kualitas jalan yang ia titi dari muda.  Ia juga pernah menjabat posisi direktur dan direktur utama di salah satu grup perusahaan terbesa...