CHAPTER 395: MENGHINDARI
Judul di atas kesan negatifnya kuat, tapi ayah punya alasan untuk itu. Terutama untuk pertimbangan kesehatan mental, psikologis, hati, dan pikiran.
Di tengah dunia yang berjalan makin cepat, dan banyak hal-hal yang absurd terjadi di luar sana dan mendapat pemakluman, ayah berusaha banget menjaga kesehatan mental dan pikiran. Tentu saja tekanan tetap datang, khususnya masalah kejar-kejaran kebutuhan pemenuhan ekonomi di rumah. Ya, tidak ada makan siang gratis. Bahkan anggaran MBG pun kabar santernya menggerus dana alokasi pendidikan dan budget transfer ke darah (TKD) dipotong signifikan oleh pemerintah pusat yang menyebabkan para gubernur berbondong-bondong melakukan protes ke pusat tepatnya ke menteri keuangan di awal Oktober 2025 ini.
Ya, bisa jadi negeri ini menjadi negeri pertama yang kabarnya gagal memanfaatkan bonus demografi. Baru saja kemarin, ayah baca lagi kalau dana kebun binatang di Bandung dikorupsi. Gila gak?! Rezeki binatang saja disunat oleh orang-orang tamak di negeri ini?! Sebelumnya, pernah juga kan dana pembuatan Al-Qur'an dikorupsi, dana pembuatan Masjid dikorupsi, terbaru dana pembangunan pesantren ambruk di Surabaya pakai dana APBN padahal banyak banget santrinya meninggal jadi korban.
Bahkan pada Tuhan pun banyak manusia negeri ini tidak takut.
Di negeri pula, di salah satu postingan Kemal Pahlevi ayah baca kalau negeri ini koruptornya memang banyak, iklan judi onlinenya gak bisa dihapus, internetnya mahal tapi lemot. Itu belum termasuk data dan fakta kalau budaya baca yang rendah, tren kepercayaan pada berita hoax dan informasi post-truth yang tinggi, budaya jalan kaki yang rendah..
Lha kok ayah menggerutu terus jadinya yah kesannya, lalu berbuat apa untuk kalian? Nah, jujur ayah saat ini pun merasa keteteran dan ada keraguan apakah sanggup berdiri tegak, berjalan panjang untuk kalian hingga kalian dewasa nanti sebagai bentuk tanggungjawab ayah yang telah turut menghadirkan kalian ada di bumi ini.
Perkembangan skill di luar sana juga semakin pesat. Untuk berkompetisi ke puncak, jujur ayah ragu pada kemampuan ayah bisa ada di permukaan. Target terbaik ayah saat ini supaya tidak tenggelam saja, atau minimal mengurasi atau memperlambat sedemikian mungkin potensi itu hingga kalian cukup umur dewasa dan bisa bertanggungjawab pada kehidupan kalian masing-masing.
Itulah kenapa ayah berusaha banget menghindari komparasi perbandingan kemampuan dengan lingkungan sekitar, berusaha tetap fokus dengan energi dan kemampuan terbaik yang ayah masih miliki.
Tidak mudah memang di tengah tekanan psikologi, kompetisi, dan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang semakin meninggi. Teman atau kawan berbicara pun tidak ada. Hanya pada Tuhan dan pada diri sendiri, ayah masih bisa berbisik. Itu pun suaranya pelan, sepotong-sepotong, napas yang tidak lagi panjang, dalam keheningan di tengah keramaian yang semakin meruang.
Di kesendirian, ayah harus bisa tetap berjalan sejauh mungkin, tidak mengasihani dan mengkerdilkan diri sendiri semaksimal mungkin, tetap fokus dan memaksimalkan potensi yang ada dengan kapasitas energi yang ada pula.
Tidak mudah, tapi mohon doakan ayah sanggup berjalan bahkan berlari kecil selama sepanjang mungkin untuk hal itu, untuk kalian.
Semoga...

Komentar
Posting Komentar