CHAPTER 398: PILIHAN UNTUK TERUS MENGGELINDING

Di negeri ini, setelah sekian lama ayah masih meyakini satu hal jika ada pola kebohongan yang senang digulirkan para pemangku kepentingan secara terus menerus untuk membentuk rekayasa fakta. Dan, dengan karakter yang rendah kemampuan filter dan juga minim literasi berkualitas, pola ini jadi banyak dikonsumsi masyarakat. 

Tidak heran jika masyarakat negeri ini sejak lama hidup di dalam realitas yang terkonstruksi secara terpola. Sederhananya ilusi realitas. 

Fakta lain, ada saja orang-orang yang dapat memanfaatkan celah ini sebagai peluang dan mereka berhasil mendapatkan keuntungan yang bisa jadi besar. Bahkan ayah meyakini, bahkan posisi pun dapat diraih oleh orang-orang berkarakter demikian. 

Ya, di negeri ini kemampuan manipulasi dibalut kontroversi dapat menjadi bekal yang lumayan untuk sukses. Meski tentu saja faktor keberuntungan atau garis nasib juga menyertai keberhasilan mereka. Mungkin saja Tuhan ingin menunjukkan jika aura gelap pun bisa duduk di kursi kekuasaan dan bahkan meraih kemenangan, namun tentu tidak mengubah esensi mereka sebagai aura kegelapan atau kejahatan. 

Kegelapan dan kejahatan dimanapun posisinya tentu tidak mengubah esensi dan maknanya, demikian pula dengan kebaikan meski harus berada di bawah. Mungkin itu juga cara Tuhan menguji kebaikan dalam hal ketabahan.

Setelah jeda beberapa hari, Kamis 23 Oktober 2025 ayah kembali melanjutkan tulisan kali ini. Agar tetap relevan dengan judul sebenarnya cukup banyak fakta terkait dan terkini untuk meneruskannya. Semisal kemarin Rabu 22 Oktober 2025 di akun instagram media berita Warta Ekonomi disiarkan informasi kalau dalam setahun masa pemerintahan sekarang, jumlah PHK sudah melonjak 32% dan pengusaha dikabarkan mulai waswas. 

Terkait hal itu pula masih ada hubungannya di akun instagram media berita lain yaitu kontannews, dikabarkan jika biaya investasi di negeri ini masih lebih mahal dibanding India dan Vietnam. 

Singkatnya kalau mencari literasi fakta soal celah kelemahan sebenarnya cukup terhampar dan mudah ditemukan di jagat maya. Ironisnya, para elit penyelenggara negara masih seolah-olah secara umum baik-baik saja. 

Dari situ, ayah ingin beranjak ke sebuah pandangan seorang influencer muda yang di era ini disebut salah satu jago ilmu matematika saat ini. Dia berkata, salah satu bentuk kegagalan terbesar adalah ketika kita punya mimpi yang rendah dan berhasil mewujudkannya. Sekilas benar tidak terbantahkan, namun jujur ayah kurang sepakat. 

Sebenarnya, menurut ayah tidak apa-apa punya mimpi rendah dan tercapai, karena setelah itu energi yang dibutuhkan untuk terus merenda kehidupan perwujudan mimpi itu pun seyogyanya tumbuh dan tidak statis, sebagaimana manusia adalah manusia semestinya adalah mahluk dinamis yang ingin terus berkembang. 

Setelah mimpi sederhana itu tergapai, kita tetap butuh energi untuk terus menggelindingkannya ke depan sepanjang mungkin, selama mungkin, dan seiring perjalanan seyogyanya akan ada insight atau wawasan baru yang berkembang.  

Hmm, sejenak arti menggelinding seolah terus membesar ke bawah. Padahal faktanya bisa jadi tidak, sesuatu bisa saja menggelinding di bidang atau medan datar. Atau lebih lugasnya, ban kendaraan bahkan sepeda pun bisa menggelinding ke atas dengan dukungan power yang cukup besar dan konstan. Itu ayah lakukan cukup lama ketika masih hobi sepedaan ke wilayah perbukitan di sekitar Bogor sebelum era pandemi Covid mengubahnya. 

Artinya, pilihan untuk terus menggelinding baik itu sederhana atau ingin tinggi sekalipun seperti pandangan anak-anak pintar brilian seperti Jerome Polin sedianya kembali ke preferensi masing-masing individu. 

Terpenting yang penting tetap menggelinding, asal sebaiknya bukan ke ranah keburukan atau kejahatan. Itu saja dulu.. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 10: RAJA JUDI KECIL DAN DERETAN BOTOL BIR

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 75: KENAPA AKU SUKA MENULIS (TENTANG JATUH)?