CHAPTER 397: HARAPAN
Aku pun demikian, pengen banget di sisa hidup dapat berakhir bahagia. Cita-citanya ingin mengantarkan anak-anak hingga cukup mandiri dan dewasa, serta membahagiakan pasangan hidup sebelum sepenggal kesempatan napas terakhir terjadi. Rasanya itu saja yang menjadi motor penggerak untuk berjalan dan memulai hari setiap pagi, serta pulang tetap semangat setelah senja berganti datangnya awal malam.
Hingga gelombang-gelombang, atau bisa jadi ombak kehidupan datang cukup tinggi menguji ketegaran jejak kaki berpijak.
Di kepalaku tergiang, bagaimana jika ceritaku juga tidak berakhir menyenangkan?! Haruskah aku kecewa dan sedih, lalu merutuk..
Hmm, jawaban terkuatnya masih entahlah.. Pikiran masih belum bisa memformulasi jawaban lebih jauh yang melegakan atau bahkan menguatkan.
Sesaat memori tentang masa lalu melintas, tentang beberapa kekecewaan yang pernah terjadi, karena yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan, ataupun kalaupun tidak diharapkan sekalipun hasilnya mengecewakan.
Dari situ alurnya berkembang di pikiranku, bisa jadi beberapa deretan kekecewaan itu yang telah menyebabkan aku lebih kuat untuk tetap bertahan dan melanjutkan langkah meski arahnya belum tahu kemana yang penting tetap bergerak.
Selintas terkenang memori ternyata ibu kandungku ternyata lebih kuat, andal, dan piawai dibanding aku anak laki-lakinya. Buktinya, dia mampu menyekolahkan kedua adikku hingga ke level sarjana S1. Sedang aku belum sampai ke titik itu, dan ada keraguan dapat menoreh reputasi yang sama dengannya.
Sampai di sini tentu kembali kepada uluran kebaikan Semesta yang menentukan kelanjutannya seperti apa aku sebagai suami dan juga ayah dari anak-anak ini.
Ya, terserah kembali ke Semesta.
Semoga saja gelombang ataupun ombak penguji yang datang hadir sebagai penguji keteguhan langkah untuk akhir cerita yang membahagiakan..
Semoga..
11 Oktober 2025

Komentar
Posting Komentar