CHAPTER 394: TENTANG OM GUZA
Senin 29 September 2025, sebuah kabar agak menggelegar sampai langsung di telinga ayah di tempat kerja, "Der, saya terakhir besok. Tidak diperpanjang."
Jujur, harus ayah akui semua orang punya cara, kiat, dan mekanisme pertahanan masing-masing dalam menghadapi cobaan hidup. Om Guza, seorang kawan baik di tempat kerja ini punya ketenangan emosi dan penataan serta penempatan sikap yang cukup mengagumkan. Tenang dan pintar dalam positioning. Ia andal dalam bersosialisasi termasuk di kalangan atas dan para petinggi di tempat kerja, termasuk ke putra mahkota.
Gambaran sikap yang kontras dan tidak pernah ayah miliki. Seorang kawan di zaman kuliah mengabarkan jika di masa mudanya Om Guza adalah siswa yang level kepintarannya di tingkat provinsi dan berhasil mendapat beasiswa mulai dari SMA di Bandung hingga S1 di UGM. Dari situ saja sudah kelihatan kualitas jalan yang ia titi dari muda.
Ia juga pernah menjabat posisi direktur dan direktur utama di salah satu grup perusahaan terbesar di Makassar. Beberapa hari sebelum kabar gak sedap itu, ayah sempat mengatakan ke bunda kalian, "Hebatlah om Guza. Piawai dia dalam positioning. Mestinya posisinya akan semakin aman."
Namun sudut pandang ayah ini ternyata keliru. Sekali lagi, ayah harus terpaku pada titik jika hidup ternyata memang tidak berjalan linear atau membentuk garis lurus. Ada turbulensi, roller-coaster, bahkan ada titik kuldesak yang pernah ayah lalui sendiri.
Setelah nasib Om Guza di tempat kerja tidak dilanjutkan dan kemudian pamitan di grup WA tempat kerja, banyak ucapan dari mantan kolega yang mengucapkan ucapan perpisahan dan juga doa agar lebih baik ke depannya. Ayah gak ikutan, biar orang-orang dengan posisi penting saja yang melakukannya. Lagipula ayah sempat berpikir, apa iya deretan kata masih bisa cukup menghibur dalam kondisi kurang mengenakkan semacam ini?! Meski di sisi lain harus diakui juga setidaknya sedikit perhatian melalui ucapan kata rasanya lebih baik daripada keheningan atau didiamkan.
Pertemanan singkat dalam setahun terakhir dengan om Guza sebenarnya tidak direncanakan dan berjalan natural saja. Buat ayah, setelah banyak kisah dan perjalanan hidup yang telah dilalui, rutinitas kerja bukan lagi momen mencari teman sebenarnya. Cukup manfaatkan momentum kerja ini sebaik-baiknya, pulang bawa hasil dan berkumpul lagi bersama keluarga kecil tercinta di rumah.
Pernah suatu ketika di masa awal pertemanan, om Guza mampir ke rumah. Dia naik KRL sampai stasiun Citayam dan ayah jemput naik Bumblebee versi kita, lalu lanjut ke rumah dan makan gudeg langganan di meja makan kita. Om Guza ternyata suka, buktinya pernah suatu waktu dia dengan mobil operasional dari tempat kerja BYD Atto 3 mampir sendiri ke warung gudeg tersebut.
Pernah juga suatu waktu, om Guza minta diantar terapi syaraf ke pak Wito langganan ayah waktu kena skoliosis beberapa tahun silam. Kemudian waktu, om Guza jadi langganan pak Wito. Diajaknya pula Om G dan pak Fajar manager HC di tempat kerja ke sana.
Baik dan tenang karakter om Guza juga kembali terbukti pada suatu kejadian lain. Buktinya kemudian putri pak Wito berhasil ia masukkan sebagai staf finance di cabang Pejaten. Di setiap waktu jedanya setiap hari, om Guza juga senantiasa WA Call dengan putri bungsunya yang berusia tujuh tahun di Makassar.
Beberapa kali ayah tanyakan, "Kenapa tidak ajak saja istri dan anak pindah ke tanah batavia ini?"
Ada beragam jawaban om Guza dalam merespon pertanyaan itu. Ada suatu waktu ia bilang, istrinya masih betah dan gak mau meninggalkan kampung halaman. Pernah juga ia bilang sulit mencari sekolah umum dan pendidikan agama dengan kualitas dan besaran budget seperti di Makassar. Namun ada suatu waktu ia bilang, kalau situasinya sudah aman (secara kepastian nasib di tempat kerja) baru ia mau bawa istri dan anak bungsunya untuk pindah.
Bisa jadi alasan terakhir yang paling kuat landasannya, jika mengacu pada situasi nasibnya di atas.
Hampir sebulan sebelum kabar enggak sedap itu datang, om Guza pernah mengajak ayah motoran ke Lembang. Hari Jumat tanggal 5 September 2025 pas tanggal merah. Kami janjian di dekat lampu merah Cibinong City Mall sekitar pukul tujuh pagi. Setelah itu langsung melanjutkan perjalanan menuju Lembang.
"Kita tektok saja yah, gak usah nginap."
Katanya ia punya janjian main padel dengan petinggi-petinggi di tempat kerja, termasuk dengan putra mahkota. Permintaan om Guza ini jujur ayah cukup terhenyak, walah masak perjalanan sejauh itu gak pake nginap.., tapi ikut sajalah. Selepas pukul sembilan pagi, kami tiba di sate Hanjawar beberapa kilometer sebelum masuk kota Cianjur. Kami menyatap 10 sate kambing dan satu sop kambing, serta sebakul kecil nasi putih.
Selesai makan, perjalanan dilanjutkan. Hampir jam 12, kami tiba di kawasan Padalarang dan menyempatkan Shalat Jumat di sebuah Masjid yang ada di sisi kiri jalan.
Hampir jam dua siang, saat kami sempat diguyur hujan dalam perjalanan menuju Lembang. Berteduh di pelataran minimarket dan sempat jajan kecil sekitar setengah jam hingga hujan reda. Setengah jam kemudian, kami tiba di Lembang. Om Guza sempat menemani ayah membeli oleh-oleh tahu dan bolu khas Lembang untuk oleh-oleh di rumah, sebelum kembali mampir di sebuah kedai kopi bernama "Ngopi di Gunung" yang satu areal dengan tempat makan bernama "Kuliner Rumah Jenderal" di kawasan utama Lembang.
Selepas sholat Ashar sekitar pukul empat sore, perjalanan dilanjutkan. "Kita jangan lewat rute tadi yah pulangnya. Lewat Subang dan Purwakarta saja."
Sebenarnya dari petunjuk di Google Maps, jarak dan waktu tempuh via rute ini lebih jauh dan lebih lama. Tapi okelah, ayah penuhi lagi permintaan om Guza itu. Dari kawasan Subang menuju Purwarta, jalanannya lebih sunyi. Ada tempat yang menurut ayah syahdu banget pas dilalui jelang Magrib, di kawasan kuliner Situ Wanayasa.
Pukul tujuh malam, kami tiba di rumah makan sate maranggi Haji Yetty di kota Purwakarta. Selesai jam 8 malam perjalanan dilanjutkan. Dari petunjuk Google Maps di om Guza, kami sempat melintasi situasi sunyi di kawasan industri yang luas di Purwakarta untuk potong jalan, dan melintasi jembatan kayu swadaya warga yang hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua dan perlu bayar dua ribu rupiah untuk sekali melintas. Setelah berliku-liku di jalan yang panjang di kawasan Kerawang, Cikarang, Bekasi, hingga Bojong Kulur, akhirnya ayah tiba pukul 11:12 tengah malam di rumah.
Perjalanan sarat kesan itu juga baik untuk mengakhiri narasi kali ini. Semoga perjalanan om Guza kemudian dapat lebih baik. Tidak ada yang tidak mungkin juga jika Semesta sudah berkehendak, bahkan jalan buntu dapat diubahNya seketika menjadi jalan bebas hambatan. Mengubah rasa himpitan hidup yang sesak menjadi rasa syukur.
Semoga, terima kasih atas perkawanannya setahun terakhir, om Guza.
Good luck, God bless..

Komentar
Posting Komentar