CHAPTER 396: MAKASSAR

Entah kenapa setiap kali hendak jatuh dan merasa di tepi jurang kehidupan, ayah selalu mengingat satu tempat di bumi yang namanya Makassar. 

Mungkin ini yang disebut kerinduan pada kampung halaman. Pikiran ayah masih sering terngiang jika kota ini yang masih berkenan memeluk ayah lebih hangat lebih baik, seperti perwujudan kasih Tuhan dalam bentuk fisik tapi bukan dalam format manusia. 

Mungkin bisa jadi ini hanya memori di pikiran ayah, mungkin di kenyataannya tidak demikian. Tapi memori itu masih sering kuat menyala di dalam diri ayah. 

Meniti jalan setapak demi setapak di sana, meski mungkin saja kondisi riilnya sekarang sudah teramat asing pada ayah, tapi rasanya tetap gak mengapa. Seringkali di pikiran ayah, terbersit pikiran untuk menghabiskan masa tua dan sisa umur di sana. Berjalan kaki mengitari jalan-jalan kota, hingga akhirnya penghujung napas terakhir tiba dan saatnya perjalanan di bumi manusia ini berakhir menuju fase berikutnya. 

Ayah tidak tahu apakah suatu saat pikiran ini terwujud atau tidak, atau hanya tenggelam sebatas angan kerinduan pada jejak-jejak langkah di masa silam. 

Makassar sebenarnya tidak senantiasa manis memperlakukan ayah sebenarnya. Beberapa kali mestinya ayah bisa mati di kota ini, patah hati pun berulang kali, ditampar, ditendang, dibanting, dihempaskan, tapi mungkin justru karena itu memorinya jadi melekat kuat. 

Masih terbersit di benak ayah, jikalau takdir di sisa hidup ternyata tidak begitu manis dan memaksa ayah harus kembali berjalan sendiri, maka izinkan dan sekaligus maafkan ayah karena tidak bisa memanggul amanah pada kalian sebaik-baiknya. 

Tapi ayah masih percaya, kalian hanya titipan Tuhan. Rezeki kalian bisa datang dari mana saja, dan Semesta pasti jauh lebih tahu dan paham bagaimana nikmat takdir pada setiap langkah perjalanan kalina masing-masing, anak-anakku. 

Jika itu terjadi, tidak perlu memaafkan ayah. Ayah yang salah, kalian hanya perlu melanjutkan langkah, memanfaatkan setiap momen dengan sebaik-baiknya. Jangan salah lingkungan pergaulan, karena itu berdampak sangat pada hasilnya. 

Jika itu terjadi. Meski ayah tidak bisa membantu kalian lagi secara fisik dan materiil, tapi ayah berusaha berjanji pada diri sendiri jika doa terbaik ayah akan senantiasa menyertai setiap derap langkah kalian. 

Semoga tidak terjadi sih, dan bisa berjalan manis hingga nanti yang berarti sekaligus menjadi doa jika ternyata jatah jatuh ayah sudah habis di sisa hidup.

I love you kiddos, very muacchh..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 10: RAJA JUDI KECIL DAN DERETAN BOTOL BIR

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 75: KENAPA AKU SUKA MENULIS (TENTANG JATUH)?