CHAPTER 410: MY ORDINARY LAST DANCE

Tepat 1 Juli 2026, satu di antara sahabat terbaikku berpulang ke Rahmatullah di usia 50 tahun. Masih tergiang kisah kami dulu saat masih remaja di kamarnya yang terletak di gang kecil di samping SMPN 3 Makassar. 

Kepulan asap Marlboro merah dengan secangkir kopi diiringi musik dari kaset GNR atau Slank di tape miliknya. Hanya seperti itu rasanya kami berdua sudah cukup keren di masanya. 

Tidak hanya cerita, hanya ngopi, mengisap rokok, dan mendengarkan musik. 

Ya, meski demikian sudah cukup membuat Acho Amril sebagai kategori sahabat rasa saudara kental di masa remaja, zaman putih abu-abu. 

Meski posturnya kecil, tapi Acho Amril lincah dan gesit. Ia juga tidak pernah membiarkanku berkelahi sendiri jika ia ada. 

Momen-momen kenangan itu kerap kali mencuat di kepalaku, termasuk ketika ia kembali ke Sang Khalik di tanggal tersebut di atas. 

-

Kepergian Acho Amril membuatku coba mengingat apa makna dari setiap sisa langkah hidupku. Di masaku yang telah melewati masa puncak tenaga, rasanya aku juga semakin mahfum jika tarian terakhirku ini kemungkinan akan berakhir biasa-biasa saja. Sebatas pergi kerja, maksimalkan setiap momen yang ada semampuku, lalu pulang setelah pukul lima sore. 

Posisiku juga di kepalaku cukuplah mentok di posisi Asisten Manager saja, tidak ada keinginan untuk naik lebih tinggi di tempat kerja. Kalaupun ada takdir lain untuk menambah amunisi ekonomi, aku berharap ada kerjaan sampingan yang dapat aku kerjakan setelah jam dan hari kerja. Aku juga lagi menyusun angan untuk membuat kedai kopi dan jajanan bersama Bu Yon, setelah insyaAllah dia umroh satu atau dua tahun ke depan. 

Ya, menari dengan ritme yang biasa mungkin bukan mimpi kebanyakan orang. Tapi pengalaman di sesi sebelum ini sangat menjadi pelajaran, betapa ruang lingkup atau titian saat ini saja sudah luar biasa banget sebagai pencapaian pria kelas secangkir kopi sepertiku.

"Kopi starling yah," kata Bu Yon.

"Ya, enggak jugalah. Masa seperti itu, adalah kelasnya minimal seperti secangkir kopi di kedai kopi tiam," kataku menimpali setengah berkelakar. 

Tadi pagi, Selasa 7 Juli 2025 dalam perjalanan Bu Yon mengantarku ke stasiun KRL Citayam, aku sempat berujar, "Aku rasa kapasitas energiku mungkin semakin terbatas, jadi aku coba maksimalkan saja pada hal-hal baik yang mampu aku lihat dan lakukan. Aku upayakan untuk semakin belajar melepaskan hal-hal yang terasa berat dan di luar kuasaku yang hanya dapat menguras energi dan menumbuhkan rasa stress yang tidak berarti."

Bu Yon nampaknya sepakat. 

Ya, tarian biasa terakhirku ini mungkin saja akan terasa biasa-biasa saja, tapi rasanya itu sudah sangat cukup untuk berterima kasih padaNya.

Terima kasih Ya Allah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 141: CERITA PENGALAMAN SEORANG KAWAN BAIK TENTANG TIPUAN MANIS BERBISNIS

CHAPTER 302: KENAPA REMAJA DI AMERIKA SERIKAT MAKIN ENGGAN KERJA PARUH WAKTU?

CHAPTER 242: MERESAPI HENING DI BUKIT HAMBALANG (TIPS SEPEDAAN BUAT PEMULA)