CHAPTER 406: BERTARUNGLAH SEBAIK-BAIKNYA, BIAR TUHAN YANG MEMBERKAHI SETIAP PERTARUNGANMU!
Sudah cukup lama nian tidak mampir ke blog ini, meninggalkan catatan-catatan hidup lately..
Ya, rasanya banyak hal mestinya yang bisa ditorehkan sebagai catatan hidup, sekaligus tetap mengasah daya kritis dan sekaligus melatih memori untuk tetap kuat merekam banyak kejadian. Bila tidak, sama saja dengan membiarkan pikiran dan hati melemah untuk mendeteksi, untuk mengecapi situasi, dan berimbas pada kemampuan sudut pandang yang rendah dan rapuh.
Ya, setidaknya setiap dari kita harus tetap tangguh hingga di ujung cerita, sekalipun penyaksinya hanya diri sendiri dan juga Sang Pencipta tentunya. Itu menurutku dapat menjadi tanda kita bersyukur atas karunia hidupNya.
Kita memang seyogyanya harus makin kuat ke depannya, apalagi di era post-truth dan juga fenomena AI yang semakin menguat dan mewarnai. Kita juga selaiknya harus tetap tenang dan mampu mengendalikan diri sendiri pada situasi-situasi ketidaknyamanan yang melingkupi, cukup yakin saja jika Tuhan pasti ada dengan sinarNya selama pemberian napas masih ada.
Kita juga harus bisa menciptakan jawaban atas setiap kegelisahan yang meresahkan, harus bisa menyederhanakan demi kesehatan diri dalam multi kebutuhan. Pada situasi yang belum kita tahu jawaban dan meresponnya, mundur sejenak dan menelaahnya lebih saksama, jangan memaksakan diri..
Tidak perlu menjadi besar dari kacamata banyak orang, tidak perlu tepuk tangan dan juga sorak-sorai serta dielu-elukan hanya untuk menunjukkan dirimu telah berusaha terus menjadi versi terbaik dari dirimu. Bahwa perjalanan terus berlanjut, dan pertarungan tetap terjaga, suluh yang tetap menyala. Cukuplah setiap diri sendiri untuk menjadi penyaksi di dalam pikiran dan hati, di ruang yang terasa dan terlihat sunyi, inti tiap diri pasti tahu dan paham jika setiap kita belum berhenti untuk tetap melanjutkan pertarungan hingga di ujung napas nanti.
Seperti halnya aku masih dengan mimpi dan satu angan yang sama.. Jika ada satu kesempatan yang diberikan saat ruh meninggalkan jasadku tergeletak di bumi, aku ingin ruhku tersenyum saat meninggalkan pasangan terbaiknya itu, "Terima kasih sangat atas kombinasi sempurna dan terbaik selama perjalanan di bumi, terima kasih untuk tidak pernah berhenti dan mengakui kekalahan, terima kasih karena dapat bangkit dari setiap pukulan kehidupan sekeras apapun, tidak pernah berkesedihan berkepanjangan atas setiap rasa kehilangan yang amat sangat atas kepergian Arai dan adiknya. Terima kasih untuk tetap ikhlas untuk setiap dosa yang memang harus ditanggung dan tidak terelakkan. Masih banyak lagi tentu jika harus diurai, selamat jalan padanan terbaik.. Terima kasih."
Buat anak-anakku, ayah hanya dapat bilang, "Bertarunglah sebaik-baiknya, biar Tuhan yang memberkahi setiap pertarunganmu!"
-
Bogor, 30 Mei 2026

Komentar
Posting Komentar