CHAPTER 411: 12 MENIT YANG MENGUBAH TAKDIR ARGENTINA

Determinasi timnas Argentina di Piala Dunia 2026 harus diakui melewati batas-batas lazim yang dimiliki tim sepakbola. Meski berstatus juara bertahan sekaligus tim terbaik di dunia saat ini, ternyata jalannya tidak semudah itu.

Cape Verde memaksa mereka bermain 120 menit, lalu di babak selanjutnya giliran Mesir yang memaksa Messi dan kawan-kawan melewati batas kemampuan mereka sebagai manusia biasa. Seakan memiliki cadangan energi level Dewa, para pemain timnas Argentina berhasil menaikkan tempo permainan dan serangan di 12 menit terakhir waktu normal babak kedua untuk mengejar defisit dua gol.

Ya, tidak ada kata berakhir sebelum peluit wasit panjang dibunyikan. Suasana boleh terasa hening karena aura kekalahan nampak segera mendera, seakan mengirim sinyal jika inilah akhir perjalanan dari seorang legenda terbaik sepakbola di jagat raya.

Tapi Messi memang berbeda, dia bergeming menolak untuk berhenti. Keras hatinya seperti didengar Semesta, ia ingin mengubah jalan takdir melalui tekad kerasnya. Faktor 1% ini yang mungkin membuat Lionel Messi tampak berbeda dibanding banyak pemain besar lainnya sepanjang Piala Dunia 2026.

Waktu boleh terus berjalan, menipis menuju penghujung laga, tapi Messi menunjukkan kelasnya jika ia bukan hanya seorang pesepakbola andal, ia juga ahli strategi yang mampu membaca pertandingan dalam tekanan setinggi apa pun. Keningnya berkernyit, matanya sesekali menuju ke arah jam di atas papan skor.

It’s not over yet,” mungkin tukasnya dalam hati. 

Sebuah umpan terukur dari Messi ke Cristian Romero di menit ke-79 akhirnya berhasil dikonversi menjadi gol ke gawang Mostafa Shoubir yang bermain sangat apik di malam itu, termasuk berhasil menepis penalti Lionel Messi di menit ke-21. 

Skor berubah 1-2 dengan waktu tersisa 11 menit dari waktu normal.

Hanya berselang empat menit, setelah para pemain timnas Argentina menaikkan tempo permainan sebuah titik balik terjadi. Sebuah skema serangan cepat mengandalkan segenap cadangan energi para pemain Argentina tidak dapat direspons dengan apik oleh para pemain bertahan Mesir. Hasilnya melalui kombinasi umpan yang sangat cepat di area kotak penalti Mesir, Messi berhasil melepaskan tendangan keras dan berhasil membobol gawang Shoubir untuk kedua kalinya di menit ke-83. 

Skor pun berubah 2-2. 

Setelah skor berimbang, para pemain Argentina tampak menurunkan tempo permainan. Bukan berarti kendur dan puas, tapi lebih ke strategi untuk mengoptimalkan sisa tenaga di penghujung laga. 

Memasuki menit ke-92, sebuah skema serangan balik dari sisi sayap kanan yang dibangun Lautaro Martinez, striker Inter Milan sekaligus top skor Serie A musim ini, membuahkan bola lambung ke arah kotak penalti dan disambut sundulan mematikan Enzo Fernandez ke arah pojok kiri gawang Shoubir.

Seketika momentum pertandingan berpindah ke tangan Argentina. Perlawanan hebat Mesir terasa sudah selesai hanya dalam waktu 12 menit tersisa di waktu normal. Ada aura kekecewaan, bahkan kemarahan dari kubu timnas Mesir. Tudingan wasit berat sebelah, hingga Messi anak emas FIFA pun kembali mengemuka. 

Tapi itu tentu tidak mengubah keadaan. Argentina keluar sebagai pemenang, lolos dari lubang jarum kedua kalinya. 

Terlepas dari dugaan Messi sebagai anak emas FIFA ataupun tudingan wasit yang dianggap berat sebelah, satu hal yang pasti terlihat di lapangan adalah bahwa determinasi timnas Argentina di bawah asuhan Lionel Scaloni dan komando Lionel Messi terbukti tidak mudah dipatahkan. Bahkan ketika peluang untuk mencari celah seperti tertutup, Messi seperti selalu mampu mencari peluang-peluang lain yang belum dapat terbaca oleh lawan. 

Setelah melewati pertandingan sulit melawan Cape Verde di babak sebelumnya 32 besar, kali ini timnas Argentina sekali lagi membuktikan jika daya tahan fisik dan mental mereka sanggup bertahan ketika tim lain mulai kehabisan tenaga dan keyakinan.

Masih ada tiga pertandingan tersisa menuju trofi Piala Dunia kedua bagi Lionel Messi. Di babak perempat final sudah menunggu Swiss. Jika berhasil lolos, timnas Argentina kemungkinan menghadapi tantangan sulit lainnya dari timnas Inggris yang dimotori Harry Kane. Lalu, di partai puncak kemungkinan final Piala Dunia 2022 akan kembali terulang melawan Perancis.

Akankah determinasi dan keyakinan level Dewa Lionel Messi mampu melewati tiga badai hebat yang tersisa? Menarik untuk disimak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 141: CERITA PENGALAMAN SEORANG KAWAN BAIK TENTANG TIPUAN MANIS BERBISNIS

CHAPTER 302: KENAPA REMAJA DI AMERIKA SERIKAT MAKIN ENGGAN KERJA PARUH WAKTU?

CHAPTER 242: MERESAPI HENING DI BUKIT HAMBALANG (TIPS SEPEDAAN BUAT PEMULA)