Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

CHAPTER 420: SEBUAH RENUNGAN

Gambar
Saat narasi ini dibuat Minggu 13 September 2026, ada banyak persoalan masyarakat di kota tempat ayah tumbuh dulu, Makassar.  Mulai dari krisis air bersih, antrian panjang BBM, pemadaman listrik bergilir, kelangkaan LPG 3 kg, konflik sengketa lahan, hingga yang tidak pernah hilang sejak ayah dulu di sana dulu yaitu kriminalitas jalanan.  Miris buat ayah mengetahui hal tersebut, karena sebagaimana kalian tahu kota itu memiliki keterkaitan sangat kuat dengan ayah. Di sana, menjadi satu-satunya kota yang bersedia memeluk ayah kala jatuh dan meringis, kota yang juga sekaligus menempa ayah untuk menjadi laki-laki yang kuat dan tidak mudah menyerah apalagi menangis. Itulah kenapa setiap ada hal yang menyakitkan terjadi di sana, meski terpisah ribuan kilometer dan sudah tidak menetap di sana selama 25 tahun terakhir, Makassar tetap saja menjadi kampung halaman ayah. Padepokan penempaan perkembangan ayah sejak kanak-kanak hingga selepas masa kuliah. Ironi Dasar Sistem Pendidikan Disori...

CHAPTER 419: BAHKAN SEORANG PECUNDANG PUN WAJIB UNTUK TERUS BERDIRI!

Gambar
Hingga di titik ini, Minggu 6 September 2026, ayah semakin menyadari jika proses melalui menjalani hidup tidaklah semudah rangkaian kata-kata bijak di sosial media. Setiap saat situasi dapat berubah, baik dari sedih ke marah, dari marah ke gusar, dari gusar ke kecewa, dari kecewa ke bahagia.  Kuncinya kemudian mungkin di keteguhan hati, ketetapan rasa, ketenangan cara pandang, ketentraman proses berpikir, kedamaian dalam cara melihat.  Sebagai mahluk normal, setiap dari kita tentunya berharap mendapatkan kebahagiaan, menggenggam memeluknya sedemikian rupa selama-lamanya. Tapi, angan tidak serta merta menjadi demikian di kenyataan, di kehidupan nyata.  Terkadang, bahkan bisa jadi acap kali harapan tinggal menjadi harapan, karena kenyataan punya alur takdir dan cara kerja yang berbeda di setiap persimpangan jalan. Kita dapat melihat jelas arah posisi dan makna kebahagiaan itu, tepat di depan mata, dekat dari pencium rasa di hidung, tergiang lekat di pikiran, namun posisinya...

CHAPTER 418: SEJENAK KELUAR DARI LINGKARAN UNTUK MELIHAT DAN BERSIKAP LEBIH JERNIH

Gambar
Kemarin ayah kembali berpikir, memang ada baiknya terkadang mengambil langkah untuk keluar dari lingkaran untuk melihat, berpikir, dan  menyikapi sesuatu lebih jernih.  Ya, kita seyogyanya hanyalah manusia biasa. Bereaksi terus pada sesuatu hal yang sedari awal disadari tidak akan mengantarkan ke mana-mana dan nilai-nilai baru bisa jadi acap kali akan melelahkan. Hanya menguras emosi dan tidak memberikan makna baik.  Pada situasi seperti ini, ayah berpikir tidak ada salahnya mengalah dan tidak meneruskan pertarungan, perbincangan. Menang juga tidak berarti apa-apa, hanya sekadar memuaskan emosi dan ego sesaat. Diam dan melanjutkan langkah, menyimpan energi untuk hal-hal yang seyogyanya lebih penting. Tidak semua ruang pertarungan harus diladeni dan dimenangkan. Kapasitas energi biar bagaimana terbatas, kita harus mampu taktis dan bijaksana untuk mengggunakannya secara proporsional. Sederhanya, harus mampu terus belajar untuk membuat skala prioritas, mencanangkan timetable...