CHAPTER 419: BAHKAN SEORANG PECUNDANG PUN WAJIB UNTUK TERUS BERDIRI!

Hingga di titik ini, Minggu 6 September 2026, ayah semakin menyadari jika proses melalui menjalani hidup tidaklah semudah rangkaian kata-kata bijak di sosial media. Setiap saat situasi dapat berubah, baik dari sedih ke marah, dari marah ke gusar, dari gusar ke kecewa, dari kecewa ke bahagia. 

Kuncinya kemudian mungkin di keteguhan hati, ketetapan rasa, ketenangan cara pandang, ketentraman proses berpikir, kedamaian dalam cara melihat. 

Sebagai mahluk normal, setiap dari kita tentunya berharap mendapatkan kebahagiaan, menggenggam memeluknya sedemikian rupa selama-lamanya. Tapi, angan tidak serta merta menjadi demikian di kenyataan, di kehidupan nyata. 

Terkadang, bahkan bisa jadi acap kali harapan tinggal menjadi harapan, karena kenyataan punya alur takdir dan cara kerja yang berbeda di setiap persimpangan jalan. Kita dapat melihat jelas arah posisi dan makna kebahagiaan itu, tepat di depan mata, dekat dari pencium rasa di hidung, tergiang lekat di pikiran, namun posisinya tidak lagi berada di kita. Dekat terasa, tapi tidak lagi berada di dalam pelukan kita, genggaman tangan. Sederhananya, berat tapi kenyataannya lepas, meski posisinya sebenarnya sedemikian dekat sekalipun. Lebih parah lagi memang jika sudah tidak terlihat, bahkan dalam rupa setitik. 

Di sini, mungkin kita tengah diantarkan pada proses pematangan diri yang kerap kali disebut sebagai ujian hidup. Saat melalui melintasinya, jangan dibilang tidak usah diceritakan, pasti terkadang sedemikian berat gelap hingga terasa tidak mungkin lagi dilalui badai hebat itu. Dalam hati dan pikiran, rasanya akan tercetus pertanyaan retorik, sampai kapan badai ini akan berjalan dilalui dihadapi, dan bahkan apakah sedemikian berat ke depannya?!

JawabanNya mungkin tidak langsung, hanya narasi-narasi intuitif mungkin yang timbul dan merajut di pikiran di hati. Sebutlah sebagai sugesti-sugesti mekanisme pertahanan diri untuk menenangkan hati, menentramkan pikiran, menjernihkan daya pandang. 

Sejenak, mungkin derai air mata mulai keluar dari kelopak mata, membasahi pipi. Rasa amarah, kecewa mencuat. Setiap detail urat dan tulang di dalam tubuh terasa kaku, lidah terasa keluh tidak mampu lagi berucap. Terasa jalan buntu. Ayah acap kali telah melaluinya di masa silam. Deretan badai yang datang sejenak kanak-kanak hingga beberapa waktu lalu, jujur sangat menguji eksistensi diri. 

Jujur, di antara banyak pertarungan hidup tidak menghasilkan kemenangan, banyak juga kekalahan yang rasanya menyesakkan dan sulit untuk diterima. Akal sehat luruh, rasa terasa bergemuruh, jiwa yang kecewa, pikiran yang mengumpat, hingga akhirnya cuma ada rasa diam di ujung jalan. Di situ sudah berulang kali ayah memang merasa Tuhan memang ada adaNya. Menggegam tangan ayah untuk melanjutkan perjalanan, mengantarkan ayah pada ruang baru, mengirim ayah pada bentuk kesenangan baru, memberikan ayah medan pembelajaran baru, mengecap rasa bahagia lagi yang sempat hilang namun hadir dengan rasa yang berbeda kali ini saat dikecap. 

Nah, di situlah medan yang ayah senangi dan syukuri memerankan lakon sebagai petarung kehidupan. Entah berapa banyak pertarungan yang terjadi, berapa banyak kekalahan yang sudah didapatkan, berapa banyak luka menohok yang telah didapatkan, rasanya itu bukan lagi intinya. Ya, ayah percaya bahkan seorang pecundang pun wajib untuk terus berdiri dari setiap kekalahan. Wajib melanjutkan perjalanan, wajib meneguhkan hati, wajib menguatkan diri, bahkan untuk deretan pukulan dan tendangan ujian kehidupan berikutnya. 

Tenang, ayah kalian bukan seorang pecundang. Kalian masih pantas sedikit berbangga untuk itu. Ayah merasa dan melihat diri ayah sebagai seorang medioker, hmm, mungkin bahkan sedikit di atas itu. 

-

Bogor, 6 September 2026

03:43 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 418: SEJENAK KELUAR DARI LINGKARAN UNTUK MELIHAT DAN BERSIKAP LEBIH JERNIH

CHAPTER 388: WORSE EVER