CHAPTER 378: TERNYATA KETIDAKJUJURAN JUGA ADALAH SEBUAH PENGKHIANATAN

Dulu, ayah sempat berasumsi jika perselingkuhan adalah satu-satunya pengkhianatan dalam sebuah hubungan rumah tangga. Ternyata, ayah keliru..

Namanya juga hidup, dari pengalaman dan perjalanan hidup kemudian ayah belajar jika ternyata ketidakjujuran juga bagian dari sebuah pengkhianatan besar. 

Ada rasa kekecewaan yang mendalam timbul atau hadir setelahnya, tidak melukai dan tidak butuh memaafkan juga, lebih kepada dipaksa menerima realitas ternyata setelah 18 tahun sebuah hubungan ternyata bukan berjalan semakin mengkerucut dan lebih saling menghargai, lebih saling mengerti dan menghormati. Ternyata perjalanan waktu yang cukup panjang belum cukup untuk saling terbuka dan menghargai. 

Namanya juga hubungan eksternal, relasinya mestinya berjalan dua arah. Kalau personal yah namanya hubungan internal. 

Ya pada akhirnya mungkin ada benarnya sebuah pameo jika jangan berharap pada manusia bila kau tak ingin kecewa. Mungkin di sisi lain, ayah juga bukan hal yang ideal dan menimbulkan kekecewaan yang mendalam. 

Di titik ini degradasi rasa percaya jelas luruh runtuh berkeping-keping. Meski mengakhiri belum tentu jadi solusi terbaik. Bertahan dengan pengertian jika tidak semuanya memang dapat berjalan sempurna seperti yang kita pikirkan, inginkan, dan bayangkan. 

Realitas adalah takdir Tuhan yang tidak dapat disangkal, bahkan bagi seorang munafik pun dalam hati kecilnya pastinya paham jika ini hanyalah sebuah kebohongan untuk menutupi kenyataan yang dihadapi. 

Buat apa juga lari menghindar?!  Bukankan di ruang manapun gelombang terpaan masalah dapat saja hadir dalam rupa dan bentuk yang berbeda. 

Mungkin ini cara Tuhan untuk mendewasakan kita sebagai manusia, mengajarkan jika masih banyak banget hal yang belum kita mengerti dan ketahui, sebelum hikmah dan makna dari tiap kejadian hadir menyuguhkan pelajaran-pelajaran hidup di atas meja beranda rumah kita untuk dikonsumsi sebagai pelajaran dari setiap langkah yang sudah diambil. 

Menyesal tentu tidak ada guna, marah pun juga hanya mereduksi kesehatan mental, kembali berjalan rasanya lebih baik. Mungkin hanya perlu helaan napas yang lebih panjang, agar gemuruh di dada dan bathin kita bisa sedikit reda dari luka yang sudah terjadi. 

Ya, ayah percaya kita akan semakin kuat, setidaknya daya tahan yang jadi lebih terlatih menghadapi gelombang ujian hidup. 

Tetap tenang sebaik mungkin, karena pada akhirnya modalitas terbesar pada tiap insan dari Tuhannya adalah dirinya sendiri. 

Jadi, tetaplah sehat, tetaplah kuat, dan tetaplah ingat untuk senantiasa bersyukur atas segala apapun itu baik berupa nikmat ataupun ujian hidup.

-

Bogor, 27 Juni 2025 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 404: MEKANISME PERTAHANAN TERBAIK

CHAPTER 402: "WHY" YANG MENGGERAKKAN DIRI