CHAPTER 407: TITIK TERENDAH NEGERI!
Tadi pagi, ayah berpikir dan merenung, bahaya jika memang republik berada di tangan orang yang tidak pernah keprihatinan di titik nadir. Alhasil dia tumbuh dengan jarak terlalu jauh dari realitas negeri yang tumbuh semai di kalangan sahaya. Ia gagal mendeteksi dan berinteraksi dengan jiwa negeri yang sebenarnya.
Bahaya banget..
Entah bagaimana menggambarkannya di sisi rasa rakyat, yang sepertinya sudah terbiasa dengan kezaliman sistem politik, hukum, dan keamanan di negeri ini.
Sudah teramat buruk memang sistemnya, beranakpinak dan tidak membiarkan ada orang baik untuk masuk dan menggantikan eksistensi mereka yang sudah temurun membangun jalan istana kegelapan.
Sekalinya ada, skenario post-truth bakal digelindingkan secara sistematis tanpa ada yang dapat menahan dan menyangkal secara vulgar hingga saat ini.
Ya, sedemikian elegis nasib perjalanan republik ini di mata ayah. Meski demikian, ayah tidak ingin mengajarkan lemas dan pesimistis. Di dalam darah kalian mengalir darah petarung dan semangat yang tidak akan pernah padam hingga di ujung napas nanti, meski untuk itu harus ada syarat mutlak yang harus dipenuhi yaitu selalu akhiri semuanya di ujung Doa kepadaNya sebaik-baik pelindung kehidupan.
Hidup di negeri ini memang bak melintasi jalan badai, terjal, penuh ranjau kehidupan. Tapi kita mewarisi darah pelaut sejati dari leluhur, sudah terbiasa dan terasa melintasi gelombak dan ombak kehidupan. Justru itulah yang membuat kita semakin tangguh.
Berhati-hatilah dalam perjalanan, waspada dan terus belajar untuk berkembang menjadi versi terbaik diri kalian masing-masing. Jangan mudah termanipulasi dengan rupa depan orang-orang negeri ini yang ada di panggung utama politikus, kalangan religius, dan para aparat. Banyak banget keparat di sana, para parasit negeri.
Berdoalah untuk terhindar dari kalangan mereka. Meski saat harus bertemu, tetaplah tenang dan mawas diri. Santai saja, itu bagian dari ujian kehidupan yang membuat kalian menjadi lebih tangguh setelah berhasil melaluinya.
Ingatlah selalu sebuah petikan bijak dari mbah Nietzsche dalam perjalanan, "Was mich nicht umbringt, macht mich stärker.” ("Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat.")
-
Bogor, 1 Juni 2026

Komentar
Posting Komentar