CHAPTER 408: JANGAN BIARKAN DRAMA BERKEMBANG DALAM DIRIMU!



Beberapa hari lalu, ayah sempat dibuat tersentak pada situasi yang cukup membuat terperangah, "Bapak jangan terlalu banyak drama, saya paling gak suka dengan orang seperti itu. Bapak maunya apa?!"

Jujur, di momen itu ayah justru kagum pada kemajuan respon emosional ayah yang tetap jauh lebih tenang, tidak merasa inferior juga. Meski tudingan itu menyentak, tapi ayah merasa tidak terpukul telak. Ya, tentu saja ada perasaan sakit yang timbul, tapi jujur terasa ringan. Nampaknya, pukulan hidup di episode yang terasa sangat berat mungkin menjadi pelajaran untuk lebih matang dan tenang menghadapi situasi hidup. 

Sesaat, ayah bertanya pada diri sendiri, "Apakah aku membiarkan drama berkembang dalam diriku? Apakah aku luruh dalam drama yang melelahkan, atau memang situasinya yang memang banyak rintangan untuk menemukan jalan keluar?"

Setelah menelaah sesaat dan tidak butuh waktu lama, ayah berpikir lebih kepada opsi kedua. Ya, ada banyak rintangan untuk mencipta jalan keluar, bahkan untuk hal-hal yang terlihat dan terasa sederhana sekalipun.

Meski demikian, ayah sudah berjanji pada diri sendiri sejak lama di waktu lalu untuk tidak menyerah pada situasi. Apalagi di tantangan kali ini, jujur secara psikologis dan level kepelikan masih jauh di bawah situasi yang lalu.

Setelahnya, ayah berjanji untuk lebih mengunci mulut. Tidak lagi menceritakan bagaimana pendapat ayah. Ayah berusaha sebaik mungkin untuk membuat situasi drama tidak berkembang di dalam diri, di dalam isi kepala, di dalam isi hati. Harus hidup bisa lebih tenang, harus bisa lebih lega menjalani sisa jalan kehidupan di bumi ini. 

Turunkan kecepatan lebih pelan lagi, jika sebelumnya cuma ingin lari 40-50 km/jam, sekarang lari 30-40 km/jam. Lalu level energi harus bisa naik lebih tinggi untuk menyelesaikan persoalan skala prioritas di tempat kerja untuk menjaga komitmen kerja dan menjaga integritas diri. 

Tidak perlu lagi banyak cakap yang tidak perlu dan non-kontekstual. Tugasku hanya menghadirkan jalan keluar dan solusi, tidak perlu maksimal. Sedapatnya saja. Selanjutnya datang kerja, duduk diam, dengerin musik atau nonton podcast, kerja sebaik-baiknyanya, lalu bergegas pulang di saat kerja usai..

Tidak perlu mencari teman, tidak perlu bercerita, tidak perlu berinteraksi di luar urusan kerjaan. Tigasku cari nafkah, jangan ada keinginan atau celah untuk naik pangkat dan jabatan.

Sederhana saja.

-

Bogor, 7 Juni 2026 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 215: JADI INGAT DARK JUSTICE TV SERIES AWAL 1990AN

CHAPTER 145: NGOBROLIN PANDANGAN ADE ARMANDO DALAM SECANGKIR KOPI