Postingan

CHAPTER 92: MENELUSURI JALAN TAKDIR

Gambar
Waktu terus berdetak dan malam pun terus meninggi, percaya atau tidak sudah nyaris 24 jam kondisi keuangan di rumah hanya ada delapan ribu perak alias rupiah. Ada lebihnya pun tidak sampai seribu, termasuk logam dua ratusan rupiah yang kalau dikasih ke Pak Ogah di perempatan dijamin akan dilemparkan kembali dengan tidak sopan.  Rasa optimisme akan adanya denting bel penyelamat di saat-saat akhir seperti biasa dalam 14 tahun ini pun nampaknya kali ini tidak akan datang. Selesai sudah, nampaknya, tinggal menunggu kedatangan sahabat yang telah lama dinanti, sang malaikat pencabut nyawa.  Tenang, tenanglah, Der. Tak usah gentar, ini adalah proses alami. Jujur sih, pasti ada rasa gentar juga, namanya juga manusia biasa tapi sebisa mungkin jangan berlebihan dan hadapi sealami mungkin. Tapi tidak usah grasak-grusuk, tarik napas yang dalam dan lepaskan. Rasanya memang sakit pasti, tapi bukankah sakit itu adalah bagian dari pertanggungjawaban hidup itu sendiri?! Menjelang Isya, sebuah ...

CHAPTER 91: ENTAH BERAPA LAMA

Gambar
Hari ini, atau mungkin sudah setahun terakhir setidaknya, aku kerap termangu dan bertanya pada Tuhan, "Kira-kira berapa lama lagi badai ini terus akan menerpaku dalam posisi bertahan?" Rasanya, jujur melelahkan dan sangat menguji kesabaran.  "Apa lagi yang bisa dan harus kulakukan ke depan, agar bisa dapat kembali melangkah dan tidak hanya semata bertahan?" Jujur, aku mulai lelah dan seperti kehabisan ide, mesti bagaimana selain hanya bisa pasrah. Bukankah Engkau bilang, setiap manusia ciptaanMu tidak boleh berputus asa, akan ada harapan lagi nanti buah dari kesabaran... Dan aku masih tetap sabar, ditengah lelahku dan kehabisanku. Berat, tapi aku tidak ingin mengembik. Aku yakin ujian seperti ini belumlah apa-apa, Engkau pasti bisa mengujiku lebih berat lagi jika berkenan.  Jadi aku hanya bisa memupuk rasa sabar, karena setiap langkah yang bisa kulakukan telah kulakukan, sepertinya. Ini memang sudah seperti di luar batas kemampuanku, anugerah kemampuan yang telah En...

CHAPTER 90: KEPUTUSAN TERBAIK DALAM HIDUP

Gambar
Entah seperti tidak kunjung lelah kukatakan jika dirimu adalah keputusan terbaik dalam hidupku, anugerah terindah yang pernah kumiliki.  Kehadiranmu telah membuatku hampir setiap saat bersyukur, betapa baiknya Tuhan telah mengirimkanmu dalam kehidupanku.  Kehadiranmu pula yang membuat lebih berlapang dada dan ikhlas, bahwa apapun yang terjadi ke depan, semoga aku telah semakin siap menghadapinya. Aku telah mendapatkan yang terbaik di dalam hidup, sisanya adalah memeluknya sebaik mungkin selama mungkin, meski cepat atau lambat kisah ini akan berakhir di bumi manusia ini.  Kelak, aku berharap di kehidupan berikutnya dirimu akan juga menjadi mahadewi yang disandingkan Tuhan untukku di sepanjang jalan, dimanapun, insya Allah aku dengan senang hati berbahagia denganmu, berbagi cerita dan kisah kebahagiaan selama-lamanya.  Aku tentu tidak ingin memujamu secara berlebihan, karena takut Tuhan marah dan merasakan aku mengkhianati posisi tersuci di semesta raya ini. Aku memuja...

CHAPTER 89: MENGADU DI UJUNG SAJADAH

Gambar
Pernahkah dirimu merasa berada di ujung jalan dalam ketidakberdayaan? Ingin terus bertarung menghadapi hidup dengan segala tantangannya, namun perlawanan di luar sana terasa semakin berat, sementara dirimu merasa kehilangan amunisi yang mumpuni dan belum kunjung menemukan strategi seperti apa yang bisa dipakai untuk kembali bertarung... Apa kira-kira pilihannya; tetap keluar rumah bertarung membabi buta, atau berusaha menenangkan diri sebaik mungkin menanti musuh kehidupan merangsek ke dalam kediamanmu, benteng terakhirmu, dan kemudian menghabisimu? ******* Dalam tidurku, aku kemudian terjaga di ujungnya. Ada rasa kekhawatiran, meski tidak lagi terasa besar dan menakutkan. Bukan mengecilkan, tapi sudah sekian lama kuhadapi situasi sulit ini, jadi sudah semakin terbiasa dan ikhlas pasrah sepertinya menjadi jalan terbaik sementara ini.  Karena kupercaya, tidak ada keputusan terbaik dalam isi jiwa kepala yang keruh. Lalu aku bangun, saat kudengar petugas keamanan perumahan memukul tia...

CHAPTER 88: PERDEBATAN DENGAN SEORANG KAWAN

Gambar
Rabu pagi 25 November 2020, saya sempat berdiskusi dan berdebat dengan seorang kawan baik secara virtual, dan berikut petikannya.  ******* Perdebatan Virtual Dengan Seorang Kawan Lama Rabu pagi 25 November 2020, saya sudah memulai diskusi dan perdebatan virtual dengan seorang kawan lama.  Berikut petikan perdebatannya... Kawan (K) : "Menurut Imam Ali, seandainya kemiskinan dalam wujud manusia, maka itu yang pertamakali aku bunuh." Aku (A) : "Untuk hal ini kayaknya menurutku perlu diurai lebih lanjut, karena kemiskinan secara umum diidentikkan dengan kemampuan materi." K : "Menurut Ali Bin Abi Thalib tidak begitu sepenuhnya." A: "Kalau begitu harus dijelaskan lebih lanjut, karena implikasinya disadari atau tidak, orang secara umum jadi menghindarinya dengan segala cara bentuk kemiskinan materi, dan menurutku salah satu pemicunya adalah statement seperti ini. Menurutku yang gagal dalam mengejar pencapaian materi, belum tidak berusaha keras dan melupakan...

CHAPTER 87: CATATAN TIGA HARI

Gambar
Inilah adalah catatan dua hari di tanggal 19, 20, dan  21 November 2020.  ***** Kamis 19 November 2020:Sedemikian Kejamnya Dunia Ini? Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, ketika si little wolverine nama sepedaku diajak lemesin lutut ke rute datar ke arah Cilodong - Kota Kembang - Jembatan Gantung Pondok Rajeg, sebelum kembali pulang.  Durasinya sekitar 1,5 jam jika non-stop, atau kalau pakai istirahat bisa makan waktu dua jam.  Di sebuah kawasan Masjid yang arsitekturnya keren di wilayah Cilodong, saya sempat jeda sejenak minum dan foto-foto jika saya sudah pernah ke sini bersepeda.  Selesai foto-foto sejenak saya sudah bergegas pergi, tiba-tiba ada seorang ibu bercadar dengan seorang anak gadis yang juga bercadar, menghampiri. Rupanya keduanya yang tengah berboncengan naik motor melintasi Masjid itu juga ingin berfoto.  "Boleh tolong fotokan gak , Pak?" kata ibu tadi. Saya sebenarnya ingin menolak awalnya, karena pertimbangannya agak riskan menerima ba...

CHAPTER 86: UJIAN BESAR NEGERI INI

Gambar
Dalam beberapa kali kesempatan, saya bilang di negeri ini saat ini setidaknya ada 5 (lima) badai besar yang tengah menghempas; disrupsi, pagebluk, resesi, industri agitasi yang semakin menggurita, dan potensi bencana alam yang semakin tinggi.  Tapi saya paling khawatir dengan poin badai ke-4, karena itu langsung terintegrasi dengan cara pandang dan pola pikir.  Beberapa waktu lalu, saya ngobrol sama seorang dekat yang sudah cukup lama masuk ke dalam relung-relung kajian kadrun.  Dalam diskusi itu, orang dekat saya itu bilang, "Kita tidak boleh menyalahkan Habib Rizieq, meski saya tidak setuju, tapi ulama tidak boleh disalahkan." Wow, saya tercengang, saya kaget karena sedemikian parah brainwash di kajian-kajian tersebut, dan kali ini sudah merangsek merasuki orang orang dekatku sendiri. Saya coba meresponnya, "Kira2 tauk tidak sejarah kapan kemunculan seorang Rizieq Shihab? Setahuku, dia tidak punya sejarah kajian mendalam sebelum era reformasi." Responnya, "K...