CHAPTER 417: MENCARI SEKEPING KEBAHAGIAAN

Ada banyak hal yang nyangkut di kepala pikiran dan hati ayah di pekan lalu selama di Surabaya dari tanggal 24 - 27 Agustus 2026. 

Detail kejadiannya tidak menjadi fokus ayah dalam penjabaran atau narasi kali ini, namun setiap item persoalan sepertinya dapat ayah urai, yaitu sebagai berikut: 

- tentang tekanan dan kelelahan psikis

- tentang scenaio building

- tentang trap atau jebakan kehidupan

- tentang draining energy

- tentang keterbatasan energi di usia yang tidak lagi muda

- tentang alokasi penggunaan energi menjalani hidup secara proporsional dan taktis

- tentang kepingan harapan di sisa hidup


Surabaya selama 4 hari itu menurut ayah adalah sebuah ujian hidup. Masalah sudah muncul dari awal keberangkatan di rumah menuju bandara, hingga jadi momen pertama kali ayah dalam hidup ketinggalan pesawat. 

Selama empat hari itu ternyata ada di kawasan paling elit di kota itu, di kawasan Surabaya Barat. Pantas saja, ayah makin merasa sesak. Ya, semakin ke sini, semakin ayah sadar justru ruang-ruang sederhana, alami dan terbuka yang membuat momen untuk dapat mensyukuri karunia hidup. 

Hingga meninggalkan hotel ke bandara internasional Juanda di Sidoarjo, rasanya tidak ada sekeping kebahagiaan melingkupi ayah mulai tiba hingga meninggalkan kota Surabaya di subuh itu. Jujur, memang rasanya masih jauh lebih baik dibanding situasi di Kalibata dua tahun silam, tapi situasi empat hari itu menyentak kesadaran ayah jika segala situasinya dapat berubah dan menjebak ke depan. Semoga sih tidak terjadi. 

Ayah sungguh berharap di sisa umur perjalanan di dunia ini bersama bundamu dan dalam upaya membesarkan kalian, jatah jatuh sedalam momen di Kalibata tidak terjadi lagi. Cukuplah turbulensi-turbulensi kecil pengingat hidup untuk terus waspada dan melanjutkan hidup dalam level optimal.

Di dalam pesawat perjalanan kembali ke Jakarta dan menuju rumah kita di kabupaten Bogor, ayah hanya bisa dapat beristirahat sekitar 30 menit awal. Selebihnya, susah banget mengistirahatkan tubuh dan menutup mata untuk terlelap. Jujur, ayah sudah lama tidak suka perjalanan naik pesawat di kelas ekonomi yang sempit dan kursinya keras itu. 

Kondisi ayah yang terakhir makan sekitar pukul satu siang di showroom Denza Haka Bukit Darmo, membuat kondisi tubuh ayah makin gak karuan. Kepala dan mata juga rasanya mulai sakit, ini gejala kelaparan yang mulai ayah deteksi makin ke sini setelah coba menerapkan pola hidup intermittent fasting  dan autofagi. Benar adanya kemudian, tiba di rumah kita, badan ayah langsung dikerok sama bunda kalian. Hasilnya fix masuk angin, karena merah-merah katanya. 

Dalam perjalanan di kereta bandara menuju stasiun Manggarai, pertama kali juga selama bekerja di Haka, ayah mengajukan cuti buat istirahat memulihkan pikiran, psikis, dan perasaan. Ya, biar bagaimana toh ayah cuma manusia biasa, dan mulai makin berumur pula. Jeda ini untuk mengembalikan kondisi ayah ke posisi siap tempur lagi di pekan-pekan dan waktu-waktu berikutnya. 

Harapannya, pelajaran situasi hidup di Surabaya dapat mengantarkan ayah menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih waspada, lebih tenang, lebih minim (sekali) drama, irit bicara dan interaksi seperlunya di luar rumah, banyak-banyak bersyukur dan bicara pada Sang Pemilik Kehidupan. 

Berjalan di ruang sunyi, memanfaatkan setiap momen dan kesempatan dengan optimal, berjalan dan terus melangkah sendirian saat pergi dan pulang kerja, hingga kembali lagi ke rumah untuk bertemu kalian sebagai sumber bahagia dan anugerah terindah yang pernah ayah miliki. 

-

Cibinong - Bogor, 1 September 2026, 03:45 WIB  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 242: MERESAPI HENING DI BUKIT HAMBALANG (TIPS SEPEDAAN BUAT PEMULA)

CHAPTER 200: CERMIN, NARCISSUS & KEPERGIAN SEORANG KAWAN

CHAPTER 311: RESENSI FILM THE INTERN (2015) - PENGALAMAN TIDAK PERNAH USANG