CHAPTER 416: SETELAH SEMUA YANG TERJADI
Kamis, 20 Agustus 2026
03:22 WIB
Ya, setelah semua hal yang telah terjadi, ayah merasa sampai pada sebuah tahapan kesadaran baru..
Beberapa tahun lalu, puluhan tahun silam tepatnya, ada satu momen perjalanan ayah ke luar kota di masa awal-awal kuliah. Seorang ayah dari kawan ayah, lupa tepatnya ayah dari siapa, tapi yang jelas ayah dari seorang kawan kuliah di sebuah kabupaten berkata kira-kira begini, "..Kalau bapak tinggal menjalani sisa hidup sebaik-baiknya di masa tua, tidak ada lagi yang harus dibuktikan, tinggal menjalani sisa hidup dan masa tua di sini.."
Waktu mendengar narasi itu dari mulut bapak itu, pikiran dan hati ayah meronta.., "Hmm, mestinya hidup tidak dijalani dengan pandangan demikian, mestinya hidup harus terus bertarung dan berkembang."
Tidak ada salahnya pandangan ayah kala itu, karena ayah masih muda kala itu. Fase dimana ayah masih dalam perjalanan masa muda yang penuh gelora dan pembuktian diri.
Kini, setelah semua hal yang telah terjadi, dan ayah tidak lagi muda secara usia, ayah akhirnya semakin memahami narasi dari bapak itu.
Ya, di fase umur seusia ayah, ayah semakin yakin tidak perlu lagi validasi orang lain untuk terus bereksistensi. Cukup menjadi pribadi yang bisa dapat terus bersyukur atas karunia hidupNya, terus berusaha menjalani hidup dengan tenang tanpa drama yang melelahkan dan menguras emosi serta energi secara berlebihan dan tidak diperlukan.
Perjalanan hidup ayah seyogyanya sudah sampai pada tahap dan fase untuk lebih ridho serta ikhlas. Lebih tenang, pergi kerja karena ibadah untuk menghidupi keluarga. Menjemput rezeki Allah SWT untuk menghidupi kalian. Membuat kalian senang, hingga di fase nanti giliran kalian yang bertarung sebaik-baiknya tanpa mengandalkan ayah lagi.
Apapun yang terjadi ke depan, doa terbaik ayah insyaAllah senantiasa mengiringi setiap derap langkah kalian.
Ya, maafkan ayah kalau tidak dapat memberikan kualitas hidup terbaik buat persiapan masa depan kalian. Ini bukan narasi yang sifatnya sentimentil, hanya berusaha memaparkan apa adanya apa yang ayah pikirkan dan rasakan saat ini.
Dulu, ayah nakal sekali, nakal senakal-nakalnya sampai memaksakan levelnya melebihi batas kenakalan yang ayah pahami dan dapat lakukan. Menurut ayah, situasinya yang membuat ayah seperti itu dan tidak memiliki pilihan.
Nah, situasi pelik yang mendidik dan mengajarkan ayah seperti itu, ayah harap tidak terjadi pada kalian. Ayah ingin kalian punya pilihan, punya persiapan yang lebih baik menjalani dan menghadapi setiap momen perjalanan menuju kedewasaan diri. Ayah ingin kalian tidak menghadapi banyak luka, air mata kesedihan, dan momen kegelapan seperti yang ayah telah lalui hingga ke titik ini.
Ayah ingin kalian memiliki hidup yang jauh lebih banyak tawa dan kegembiraan, memiliki hidup yang jauh lebih senang dibanding ayah.
Ayahmu ini bukan ayah yang luar biasa, ayah betul-betul orang biasa yang mudah kalian lewati. Ayah berharap kalian dapat melewati pencapaian ayah dengan mudah. Ayah sangat berharap kalian dapat mewujudkan keinginan ayah ini, Aamiiin Allahumma Aamiiin.
Saking biasanya kualitas hidup ayah buat kalian lewati, ayah ceritakan singkat bagaimana ayah menjalani kehidupan ayah saat narasi ini dibuat. Setiap hari kini setiap berangkat kerja naik KRL yang dipenuhi dengan dengan manusia-manusia biasa seperti ayah. Kami berjubelan di gerbong KRL, coba menguatkan diri masing-masing agar dapat tiba di stasiun tujuan dengan aman dan damai. Kadang atau bahkan ayah banyak menutup mata dalam perjalanan yang cuma kira-kira memakan waktu perjalanan sekitar 30 menit berdiri dan umpel-umpelan dari stasiun Citayam ke stasiun Tebet. Ada 12 titik stasiun untuk sampai ke stasiun Tebat dari Citayam.
Sering ayah hitung setiap sampai ke satu titik stasiun antara, menjaga kesabaran bahwa tidak lama lagi ayah akan tiba di stasiun tujuan. Merapal doa-doa kecil agar bisa tiba di stasiun Tebet dengan damai dan aman di antara kerumunan manusia, di antara banyak gejolak hati dan pikiran masing-masing di diri kami sebagai penumpang KRL.
Sesekali ayah menemui orang-orang yang dapat memicu rasa gusar dan marah, tapi alhamdulillah senang sekali ayah kalau dapat mengontrol emosi dan tidak menggubris hal-hal tidak penting seperti itu. Hal-hal demikian hanyalah rempahan situasi receh yang seyogyanya diabaikan. Anggap saja pernik-pernik hal menjengkelkan yang mudah untuk diabaikan, bumbu pahit kehidupan yang hanya perlu dihargai eksistensinya tanpa harus dimasukkan ke dalam hati dan pikiran ayah. Hidup harus terus dapat dibuat seindah-indah, sedamai-damainya.
Kadang memang harus tetap bersikap dan menghadapinya jika diperlukan, ayah pikir tidak harus lari dan menghindari situasi pelik. Tetap harus dihadapi untuk menunjukkan jika ayah punya ruang eksistensi yang harus dihargai, sekecil apapun itu, namun sebisa mungkin ayah selesaikan kini dengan tenang dan damai tanpa perlu konfrontasi langsung seperti di masa muda ayah.
Setibanya di stasiun Tebet, tiba saatnya turun dari gerbong KRL dengan damai dan tidak perlu terburu-buru. Harus dapat mengontrol diri untuk turun secara damai dan tidak grasak-grusuk. Ya, sesekali ada momen main siku yang tidak dapat dihindari kalau ketemu orang-orang resek yang harinya mungkin tengah buruk dan bermasalah, tapi jangan sampai momen rusaknya memotivasi ayah untuk melakukan dan mengalami hal yang sama.
Setelah momen terpelik di Kalibata dua tahun silam, ayah merasa insyaAllah jauh lebih kuat dan lebih tenang, lebih mudah juga mensyukuri nikmat Allah SWT saat ini.
Turun di terowongan untuk keluar stasiun juga momen melatih kesabaran ayah, karena selalu banyak orang yang antri dan berjalan pelan untuk keluar stasiun Tebet. Sesaat setelah keluar stasiun sudah banyak bapak-bapak ojek motor mengantri dan menunggu penumpang. Mereka hanya menyisakan sedikit ruang untuk dilewati, jadi harus sabar lagi.
Setelah itu, ayah harus kembali melatih kesabaran dengan antri Jaklingo. Ya, momen antri Jaklingo ini selain melatih kesabaran, ada dua manfaat baik lainnya yaitu melatih ego untuk lebih rendah hati dan nilai positif lainnya tentu saja berhemat karena masih gratis cukup tap eMoney tanpa potongan biaya.
Setelah turun Jaklingo di shelter yang namanya Manhattan, ayah masih harus berjalan kaki menuju tempat kerja di gedung Cyber 2 Tower. Di lantai 32, ayah kalian bekerja sebagai pegawai biasa. Ada sih sepenggal jabatan sebagai Asisten Manager, tapi secara kualitas kerja di posisi ini rasanya lebih menyerupai prajurit pelaksana kerja ketimbang positioning sebagai pembuat keputusan.
Tetap bersyukur, Alhamdulillah banget.
Setiap hari, ayah berusaha konsisten pukul enam pagi berangkat kerja dan tiba sebelum jam masuk absen pukul delapan pagi. Setibanya di meja kerja sebagai prajurit di ruang selasar atau tanpa ruang khusus, ayah biasanya taruh tas dan Shalat Dhuha 4 rakaat di Mushollah kantor. Setelah itu, ayah buat secangkir kopi pahit dan bekerja sambil dengar podcast berbagai tema yang menurut ayah menarik atau mendengarkan list lagu di Spotify.
Di waktu indikator Shalat di Google jika sudah tiba, ayah turun ke Masjid gedung buat Dzuhur dan Ashar. Oh iya, ayah juga rajin tinggalkan meja kerja ke toilet buat pipis. Sampai saat ini ayah masih suka rajin minum air putih dan tidak minum gula. Apalagi seperti kalian tahu, sudah 3 tahun terakhir ayah IF dan kini masuk di tahap Autofagi pas puasa sunnah Senin - Kamis. Ayah juga berusaha konsisten untuk Stoik.
Di tempat kerja, ayah juga kini makin sibuk. Tugas pekerjaan makin banyak, karena cabang-cabang juga makin banyak. Sebagai orang yang bekerja di head office, tugas ayah berusaha sebaik mungkin melayani kebutuhan cabang khususnya di bidang kerja ayah yaitu promosi di media dan kini dapat tugas barus untuk membuat event komunitas berdaya beli di sebuah cabang sebulan sekali.
Ayah juga mengola website HO, dan juga sebuah proyek eksperimen website cabang BYD Haka Pejaten.
Ya, tiga hal pekerjaan itu, termasuk terkait urusan administrasi dan pengelolaan anggaraan terkait juga ayah kerjakan sendirian saat ini.
Namun tentu saja ayah makin bersyukur di usia yang makin tidak mudah ini masih tetap dapat bekerja dan alhamdulillah masih tetap sehat. Masih kuat jalan kaki dan berdiri tiap hari. Masih kuat konsisten untuk pergi dan pulang kerja, mengisi nikmat waktuNya dengan hal-hal yang menurut ayah masih positif dan baik. Menjaga kepercayaan Pung Adi yang telah memberikan ayah kesempatan kerja di tempat ini.
Setelah semua yang terjadi, ayah sudah tidak memiliki intensi untuk naik jabatan di tempat kerja. Cukuplah di level ini saja secara posisi, walaupun kalau naik gaji dan tunjangan tentu mau banget. Cukuplah alhamdulillah banget bisa dan dapat kerja di posisi sekarang.
Di tempat kerja, teman ayah cuma satu namanya om Radinal. Usianya baru 29 tahun, tapi sudah punya anak 2. Itu pun kami semakin jarang berkomunikasi, walaupun duduk sebelahan di tempat kerja. Kami baru banyak ngobrol, kalau pergi dan kembali dari shalat Dzuhur dan Ashar. Tugas pekerjaan di HO yang makin banyak yang meningkat membuat kami memang harus jarang mengobrol. Semakin sesekali saja, itu juga hal baik sih semestinya, karena ngobrol kebanyakan juga berpotensi ghibah dan menambah dosa saja hahaha..
Di tempat kerja, niat ayah memang cuma kerja sih memang bukan cari teman. Bekerja sebaik-baiknya, dan jika pukul lima sore sudah tiba, ayah bergegas untuk pulang. Sekarang, pukul lima lewat empat menit baru bisa absen pulang. Biasanya ayah kini absen pulang di bawah saja dan bahkan setelah keluar gedung.
Ini juga momen yang membuat ayah tidak ingin naik posisi di tempat kerja. Cukuplah rezekinya saat ini untuk bayar pendidikan kalian, meski memang bukan di sekolah yang kualitas baik. Sedenglah, yang penting bisa tetap sekolah.
Setelah waktu pulang tiba, ayah bergegas ke stasiun LRT Kuningan. Ya, kembali jalan kaki dan naik anak tangga yang lumayan jumlahnya, namun justru ayah bersyukur karena dengan kondisi ekonomi seperti ini ayah jadi bisa belajar lebih berhemat dan bisa tetap sehat karena masih harus terus bergerak fisik. Tidak dimanjakan dengan kendaraan transportasi pribadi ataupun fasilitas kantor. Ayah masih jadi seorang komuter yang menggunakan fasilitas transportasi publik di setiap hari kerja.
Perjalanan dua stasiun dari stasiun LRT Kuningan menuju stasiun Cikoko, dan setelah turun LRT ayah masih harus jalan kaki menuju stasiun KRL Cawang. Pas turun tangga juga harus antri, bisa juga naik lift tapi tetap harus antri juga. Ayah memilih menggunakan tangga saja supaya melangkahkan kaki biar tetap fit dan sehat.
Setelah itu, ayah kini biasanya antri menunggu KRL di gerbong tengah supaya potensi bisa masuknya lebih tinggi. Sebisa mungkin juga pas berangkat dan pulang kerja, tas bawaan ayah taruh di tempat penyimpanan di atas kursi penumpang. Biar lebih ringan dan laptop kantor lebih aman dari potensi kondisi umpel-umpelan yang seringkali terjadi.
Ya, begitulah narasi kehidupan yang ayah tengah jalani saat ini.
Hmm, sudah pukul 04:26 WIB. Ntar lagi Adzan Subuh, siap-siap Shalat lagi dan insyaAllah hari ini Kamisan Autofagi 24 jam.
-

Komentar
Posting Komentar