CHAPTER 420: SEBUAH RENUNGAN

Saat narasi ini dibuat Minggu 13 September 2026, ada banyak persoalan masyarakat di kota tempat ayah tumbuh dulu, Makassar. 

Mulai dari krisis air bersih, antrian panjang BBM, pemadaman listrik bergilir, kelangkaan LPG 3 kg, konflik sengketa lahan, hingga yang tidak pernah hilang sejak ayah dulu di sana dulu yaitu kriminalitas jalanan. 

Miris buat ayah mengetahui hal tersebut, karena sebagaimana kalian tahu kota itu memiliki keterkaitan sangat kuat dengan ayah. Di sana, menjadi satu-satunya kota yang bersedia memeluk ayah kala jatuh dan meringis, kota yang juga sekaligus menempa ayah untuk menjadi laki-laki yang kuat dan tidak mudah menyerah apalagi menangis.

Itulah kenapa setiap ada hal yang menyakitkan terjadi di sana, meski terpisah ribuan kilometer dan sudah tidak menetap di sana selama 25 tahun terakhir, Makassar tetap saja menjadi kampung halaman ayah. Padepokan penempaan perkembangan ayah sejak kanak-kanak hingga selepas masa kuliah.

Ironi Dasar Sistem Pendidikan Disorientasi 

Dari sebuah kata kunci "Bagaimana kualitas perkembangan sistem pendidikan di indonesia dalam 20 tahun terakhir, dan bagaimana jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga-tetangga terdekat seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina?" di Google Gemini ketemu link jawaban berikut https://share.google/aimode/QkNRtTFs7v8esxRbb.

Di situ disebutkan jika dalam 20 tahun terakhir, dari sisi kualitas dan hasil belajar, Indonesia masih berjalan di tempat. Menyedihkan. Indonesia dinilai sangat jauh ketinggalan kualitas input pengajar dibanding Singapura. 

Ya, secara logika dasar, hanya orang-orang punya jiwa pengabdian dan pengorbanan tinggi yang ingin menjadi pengajar pendidikan di negeri ini, yang minim apresiasi, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi dasar. Kompetensi guru dan infrastruktur pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan Vietnam dan Malaysia pun kita ketinggalan jauh. 

Selain kualitas mutu pengajar dan infrastruktur yang ketinggalan jauh dibanding negara-negara tetangga di atas, salah satu hal terburuk di negeri ini adalah terlalu seringnya mengganti kurikulum khususnya setiap kali ganti pemerintahan. 

Hubungan Dengan Kondisi Makassar Saat Ini

Saat melihat fenomena antrian BBM di kota Makassar beberapa waktu terakhir, menurut ayah, di situlah letak ironis hasil kualitas pendidikan di Indonesia. Hasil dari skema pembodohan yang dipelihara dengan kepentingan penguasa dan para pemilik modal jahat di negeri ini. 

Fenomena terbaik adalah masyarakat yang mengantri bensin meski semakin panjang, akibat efek domino ketidakcakapan para pemangku kebijakan. Andai kata hasil kualitas pendidikan di negeri ini, respon masyarakat tentu tidak akan sesabar dan semoderat ini. Dari kata kunci "Apakah krisis BBM seperti di Makassar saat ini juga terjadi di kota-kota negara maju di dunia khususnya di Amerika Serikat dan Eropa? Jika iya, apakah akar penyebabnya sama dan bagaimana solusinya mestinya?"  ketemu jawabab jika salah satu penyebab utama hal ini adalah kebocoran regulasi, https://share.google/aimode/ZAvz5kMIpgTvfCvlW

Ada juga yang tidak sabar dan menggunakan solusi tabiat terendah kemanusiaannya melalui cara kekerasan fisik, yaitu mendahulukan kepentingan pribadi dengan mengorbankan kepentingan lainnya yang sudah sangat sabar antri. Menurut ayah, ini salah satu potret terburuk yang memvalidasi buruknya sistem pendidikan di negeri ini sehingga gagal mencipta kelas masyarakat yang lebih solutif tanpa mendepankan faktor kekerasan layaknya manusia purba dan barbar lagi. 

Jebakan Kelas Menengah

Disamping kualitas dan hasil belajar yang tidak berkembang dalam 20 tahun terakhir, ayah percaya di negeri ini memang sengaja dibelenggu dalam situasi ekonomi. 

Melalui prompt "Apakah di Indonesia mengalami fenomena middle income trap saat ini? jika iya, sejak kapan hal itu berlangsung, bagaimana gambaran fenomena ini secara umum di Indonesia? Dan apa solusinya?", ketemu jawaban jika menurut data Bappenas, Indonesia telah terjebak dalam fenomena "Middle Income Trap" sejak 33 tahun terakhir sejak tahun 1993. Berikut link jawaban AI-nya https://share.google/aimode/ZeJXeyPejLlLlmAXO.

Melihat 2 program unggulan dari pemerintahan saat ini yaitu MBG dan KMP semakin meyakinkan ayah kalau kita memang sengaja dilumpuhkan secara sistem, dibiarkan tumbuh dalam ketidakberdayaan. Dibiarkan terus tumbuh jadi masyarakat yang tumpul dan kehilangan daya kritis untuk menjadi manusia seutuhnya. Inilah bentuk penjajahan tertinggi dan terpanjang dalam sejarah republik ini, karena para penyelenggara negara dan para pemilik modal jahat tidak pernah membiarkan kemerdekaan berpikir dan mendorong versi terbaik dari setiap masyarakatnya mengemuka. Seolah kecerdasan adalah momok yang menakutkan, seolah kepintaran adalah bom waktu yang dapat mematikan. 

Tapi di atas itu semua, membiarkan hal itu terus terjadi adalah bentuk keserakahan mereka yang ingin menggerogoti semua kekayaan negeri untuk kepentingan sendiri dan kelompok kecilnya. 

Memuakkan? Ya, itulah mengapa validasi lainnya muncul dari fenomena ketidakberdayaan itu. Namanya "Lipstik Effect",  yaitu "Fenomena ekonomi di mana seseorang tetap membeli barang mewah berukuran kecil dan terjangkau sebagai bentuk pelarian atau hiburan saat kondisi keuangan atau ekonomi sedang sulit."

Taik? Ya, taik memang, tapi ayah mohon jangan pernah kehilangan keyakinan di antara setiap luka, di antara ketidakpastian, di antara situasi sulit dan tidak mengenakkan.

Tetaplah berdiri tegak dan melanjutkan perjalanan. Kalau jatuh, harus bisa bangun lagi. Kalau airmata sudah habis turun mewakili setiap kesedihan, angkat lagi kepala dan dagu kalian untuk menatap dunia. Kalau lelah kalian sudah hilang, kembalilah melanjutkan langkah. Jangan pernah takut. Dunia boleh semakin mencekam, dan kita boleh tidak punya kekuatan untuk mengubah situasi di luar sana. 

Tapi Allah SWT memberikan kita kuasa untuk mengubah dan mengatur cara pandang kita sendiri, mengatur strategi langkah-langkah yang kita mau, menetapkan dan meneguhkan hati kita dari serangan-serangan yang semakin deras. Sesekali kala terpojok memang kita harus melawan dan menentang. 

Pekan lalu, ayah bisa dibilang menghardik atasan di tempat kerja atas ketidakcakapannya. Bukan karena melawan semata, tapi lebih kepada kepedulian untuk menciptakan suasana pertarungan yang lebih baik, tanpa semata egois untuk kepentingan diri sendiri dan mengorbankan orang lain. Apakah berubah dia? Enggak juga, dia sepertinya sudah mentok dan sulit diubah. 

Tapi sekali lagi, setidaknya kita punya hak dan otoritas penuh untuk bersikap, bertempur lagi jika sudah terpojok. Tidak harus langsung konfrontasi fisik, itu strategi terakhir. Pilihlah konfrontasi profesional melalui kemampuan otak, keteguhan mental, deteminasi sikap, dan kemampuan merajut diksi yang sistematis dan menekan.

Cukup? Ya, tentu saja belum, tapi itulah batas tertinggi seorang manusia stoik seperti ayah saat ini. Selebihnya, seperti ayah bilang tidak ada yang mengalahkan proses sujud padaNya, berbisik melalui rangkaian doa-doa pengharapan setelahnya. Itulah kombinasi dasar terbaik, dan rasanya menjadi pamungkas yang tidak bisa terkalahkan. 

Kata guru SD ayah, Shalat adalah tiang agama. Itulah juga yang menjadi fondai pertahanan terakhir dan tertinggi kita sebagai manusia, sebagai mahlukNya.

Itu saja dulu.

-

Bogor, 13 September 2026

09:49 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 418: SEJENAK KELUAR DARI LINGKARAN UNTUK MELIHAT DAN BERSIKAP LEBIH JERNIH

CHAPTER 388: WORSE EVER

CHAPTER 41: TAHUN KE-13