CHAPTER 421: ANOMALI TANPA SINTESA
Terkadang, memang harus sekadar dibiarkan, dimengerti sebagai rangkaian anomali, tanpa perlu diubah atau dihadang. Memang sebagian jalur yang mereka gerus memakan hak kita, menyisakan ironi dan keprihatinan dalam hati dan pikiran
Toh, biar bagaimana pun kita hanyalah manusia biasa yang dipaksa menelan ludah dari sikap dan tindakan tamak yang melintasi jalan kita, sembari mengambil bagian kita dengan paksa secara terbuka.
Melawan? Mestinya mungkin iya, kalau hanya mengedepankan respon emosional sesaat, tapi setelah ditelaah lebih lanjut, kita bukanlah lawan sebanding dari para penjajah penindas itu. Mudah mereka mengalahkan kita, menghempaskan kita dalam satu kibasan tangan, atau satu sepakan saja.
Selagi masih bisa dihindari dan kita masih bisa melanjutkan langkah hidup, rasanya memang baiknya menghindar. Biar Sang Penciptanya, Sang Semesta, yang kelak akan menghardik dan menghukum mereka.
Melintasi perjalanan ke kota Madiun, Kamis 17 September 2026, ayah melihat negeri ini memang punya alam yang indah nian. Elok memanjakan mata, menyegarkan hati, menyejukkan jiwa.
Namun, mungkin ke depan akan semakin tergerus seiring populasi manusia yang terus bertambah. Keinginan untuk meruang, menggerus alam secara serampangan. Sudah bukan rahasia lagi, banyak ruang alam yang diporak-porandakan karena keinginan manusia meruang. Mulai dari sekadar kebutuhan membangun rumah tinggal, atau salah satu bentuk terfatal membabat hutan untuk membangun ruang keserakahan ketamakan tingkat tinggi sebagai pengganti.
Tidak ada lagi yang namanya alami, perlahan menyusut dan bisa jadi kelak akan menghilang, yang ada tersisa segala hal artificial yang seyogyanya tidak akan mampu menandingi prakarsa Sang Semesta.
-
Dalam perjalanan ke Madiun dengan kereta eksekutif Argo Semeru.

Komentar
Posting Komentar