CHAPTER 423: HIPERREALITAS TERUS DIPAKSAKAN
Memulai menurut ayah baiknya demikian, saat ini bangsa ini dalam fase titik terperosok dalam banget. Pangkalnya karena pucuk pimpinan negeri diduduki orang sakit yang merasa hebat dengan realitas semu di kepala dan hatinya yang sama sekali jauh dan kontras dengan realitas rakyat kebanyakan.
Diperlukan sentuhan langsung Keajaiban untuk melengserkan dan menjatuhkannya. Ya, sudah mustahil berbicara pada orang tua yang merasa segala sesuatunya baik-baik saja, di saat keadaan nyata sama sekali tidak demikian.
Kasihan memang negeri ini, sangat kasihan. Kita dilingkupi berada di fase yang disebut oleh seorang filsuf asal Perancis, Jean Baudrillard, sebagai Hiperrealitas yaitu kondisi antara batas kenyataan dan fantasi/simulasi menjadi kabur. Sudah jadi rahasia umum, jika saat ini penguasa lagi getol-getolnya membuat rekayasa realitas atau dunia buatan untuk terlihat dan terasa lebih nyata dibanding kenyataan aslinya.
Melalui kuasanya; media-media sudah banyak yang tergadai, lembaga survei mengejarkan data-data pesanan, aparat yang semakin menindas, dan hukum yang semakin kehilangan marwah dengan perilaku transaksional tidak ubahnya sebagai makelar dan preman beratribut resmi serta mendapat legitimasi negara.
Era post-truth yang diisi oleh penguasa, kebohongan keberlanjutan pemerintah seperti ini menyimpan pertanyaan mendasar, "Apakah hal-hal ini bisa membantu menyelematkan pemerintah yang super bobrok dan serampangan dari potensi kondisi super buruk ke jalannya negeri ke depannya?
Ditambah sistem hukum yg kerdil dan transaksional, sama sekali tidak mempedulikan wibawa dan kharisma negara, apakah dapat menyembunyikan potensi kehancuran yang semakin nyata?!
Hutan-hutan yang dibakar, hewan-heman yang dikorbankan untuk dimatikan, sistem pendidikan yang semakin dikebiri, kemiskinan struktural yang terus dilanjutkan, ruang peluang kerja yang semakin sempit di tengah potensi bonus demografi yang semakin dekat di depan mata, kampanye mitos-mitos yang menjelajah untuk berupaya terus membodohi, parade item-item pajak baru yang semakin banyak dibuat dan membelenggu, apalagi tekanan yang lebih buruk dari situasi super pelik ini?!
Ya, ada benarnya soal pandangan jika menjadi warga negeri ini level kesabaran dan ujiannya jauh di atas perjalanan mengarungi pernikahan..
-
Bogor, 31 Oktober 2026

Komentar
Posting Komentar