CHAPTER 422: GELOMBANG PEMBUNUHAN KARAKTER & POST-TRUTH

Rasanya tidak ada lagi kabar yang menyedihkan dibanding situasi negeri saat ini. Ayah jadi ingat salah satu bacaan waktu kecil saduran dari karya Hans Christian Andersen berjudul The Emperor's New Clothes (Baju Baru Kaisar). 
 
Kisah ini menurut ayah, persis dengan kondisi negeri saat ini.  Terlebih upaya pembodohan dan kemiskinan struktural masih berlangsung saat ini. Saat ayah memasukkan kata kunci "IQ rata-rata orang Indonesia tahun 2026" ketemu data jika angka IQ orang Indonesia saat ini ada di 89,96 berdasarkan laporan Global IQ Rankings 2026 yang dirilis oleh International IQ Test. 

Nilai 89,96 ini tercatat mengalami penurunan sekitar 3,22 poin dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Dari sini saja, semoga kalian bisa makin mengerti jika upaya pembodohan dan kemiskinan secara struktural memang didesain secara serakah dan serampangan oleh para pemangku kebijakan dan kekuasaan di pucuk negeri. 

Menurut ayah, level sakit jiwa dan ketamakan mereka sudah sedemikian akut, hanya kebaikan atau kutukan Tuhan langsung yang dapat mengubah perilaku orang-orang "sakit parah" di pucuk kekuasaan. Mereka sudah terlanjur menggurita dan bersarang lama di sana, membangun sistem yang sakit dan menguntungkan diri yang nampaknya susah diberangus dan dihilangkan oleh kekuatan sekumpulan manusia di negeri ini. 

Apalagi secara fundamental ideologi dan paradigma nilai-nilai kebangsaan di negeri ini memang setahu ayah belum pernah terbentuk. Kita masih doyan mengikuti kelompok-kelompok kecil di lingkungan sekitar, masih mudah terkotak-kotak dengan iming-iming rupiah dan bingkisan yang sebenarnya sangat tidak seberapa dibanding nasib negeri. 

Ironis dan mengenaskan, tapi itulah mengapa upaya pembodohan dan pemiskinan secara struktural harus tetap dijaga, agar lebih mudah diurai dan diadu. Alhasil para tikus-tikus busuk leluasa menggeroti kekayaan negeri ini, menyedihkan tapi kita tidak kuasa menahannya. 

Makin rendahnya kualitas pendidikan, diikuti makin miskinnya kekuatan nalar dan rendahnya minat baca yang mereduksi kemampuan logika membuat gelombang informasi post-truth seperti mendapat karpet merah. Maka tidak heran, jika upaya pembunuhan karakter itu cenderung mudah dilakukan di kalangan masyarakat yang makin miskin daya nalar dan rendahnya kekuatan minat baca.

Mengikuti perkembangan arah negeri ke depan tentu dapat menekan akal sehat, melukai hati, dan makin mengoyak nurani, tapi sekali lagi di situlah fungsi Iman dan kepercayaan pada Allah SWT harus senantiasa didekatkan melalui sujud dan tangah menengadah pemanjatan doa, agar kita senantiasa dapat menjadi manusia yang diberkahi niat, sikap, dan langkah-langkah yang baik, dan dirihoi-Nya. 

-

Bogor, 10 Oktober 2026
09:41 WIB   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 242: MERESAPI HENING DI BUKIT HAMBALANG (TIPS SEPEDAAN BUAT PEMULA)

CHAPTER 420: SEBUAH RENUNGAN

CHAPTER 327: SEPENGGAL CERITA SECANGKIR KOPI SOAL LEBARAN 2020 DAN PANDEMI