Postingan

CHAPTER 16: BELAJAR MAKNA HIDUP DARI ALMARHUM ADI

Gambar
Pernahkah kalian dekat dengan seorang kawan yang (ternyata) lebih liar dalam menutupi kegelisahan hidup? Zolenk pernah, setidaknya sekali... “Mengenang awal perkenalan dengan sahabat itu seperti menembangkan lirik lagu “Koepoe Liarkoe” dari Slank, tapi bedanya ini untuk seorang kawan baik yang jenis kelaminnya laki-laki,” gumam Slank. Di pertengahan 1990an, anak-anak nongkrong tanah air tentu familiar dengan sosok Mike Kasem, dan kawan baru Zolenk yang dikenalnya di kapal Pelni itu mirip banget dengan sosok presenter MTV Channel itu. “Halo, bro. Nama saya Adi,” katanya dengan ekspresi yang ceria. Meski berparas keren a la Mike Kasem, kawan baru Zolenk ini nampak slengean dengan kemeja gunung yang khas. Ia kemudian menjadi kawan kos pertama Zolenk, setidaknya selama beberapa bulan. “Kalau mau kos mending sama saya saja, bro. Kita patungan saja, daripada cari-cari lagi,” katanya lagi. Ya, Zolenk memang tengah mencari kosan saat itu. Sikap keras kepalanya yan...

CHAPTER 15: PERKELAHIAN TEREPIK ZOLENK

Gambar
Adakah momen perkelahian terepik dalam hidupmu? Jika pertanyaannya ditujukan pada Zolenk, jawabannya ada yaitu di kisaran tahun 1993/1994... “Pokoknya kau jangan sampai berurusan sama geng anak kelas satu itu titik, pokoknya jangan sampai yah atau kau bakalan hilang ( wuih , sudah macam model ancaman Dilan, ngeri ). Mereka itu anak-anak pejabat, ada anak wali kota, ketua depeerde provinsi, sekwilda, dan lain-lain,” kata preman-preman senior di jalan Baji Gau. Sayangnya Zolenk bukan Anhar, bukan karena nyali takutnya Zolenk sudah putus, tapi lebih karena kepalanya lebih keras dan egonya terlalu tinggi. - “Lihat tuh ada anak kelas satu yang lihat-lihat kayak gitu, menyebalkan,” kata Ignatius, teman kelas Zolenk. “Yang mana?” kata Zolenk. “Yang itu,” tunjuk Ignatius. “Wuih, anggota anak-anak langitan,” kata Zolenk dalam hati. “Kau mau samperin?” kata Zolenk. “Samperin ah,” kata Ignatius, tapi lucunya dia malah jalan di belakang Zolenk. “Hmm, i...

CHAPTER 14: TIDAK ADA PENYESALAN DALAM HIDUP

Gambar
Wuih, judulnya saek kalau orang Betawi bilang mah . Maksudnya bagaimana tuh? Ya, setiap hidup punya cerita, dan pasti ada gagalnya. Jika gagal bagaimana menghadapinya, haruskah menyesal berkepanjangan? Buat Zolenk, tidak ada kamus penyesalan dalam hidupnya. “Saya hanya bergerak mengikuti kata hati, meski itu konsekuensinya harus gagal dan sendiri sekalipun,” kata Zolenk acap kali pada dirinya sendiri. Sore itu, ia hanya duduk terpaku di tangga Mall Theater, jaringan bioskop kelas B yang ada di ujung selatan Makassar. Di tahun 1990an, Mall Theater ini grade -nya sama dengan Artis Theater yang menunggu film-film muntahan dari Makassar Theater dan Sinema 21. Nah, di Mall Theater inilah menjadi salah satu tempat Zolenk mencari “nafkah” sebagai tukang pajak penonton ataupun pegawainya, sekadar untuk membeli rokok. Sudah sekitar dua tahun dia luntang lantung tidak karuan, entah mau kemana, tapi Zolenk tidak pernah banyak berpikir bahkan untuk merutuki hidup. Hari itu me...

CHAPTER 13: ERA BALAP LIAR DI MAKASSAR TAHUN 1990AN

Gambar
Di awal tahun 1990an di kota Makassar, geng-geng motor mulai marak bermunculan. Ajang balap road race mulai intens digelar dan disukai, setidaknya itu yang diingat Zolenk. Salah satu balap road race paling ikonik saat itu ada di jalan Riburane depan Hoya. Di antara jagoan balap, satu di antaranya ada nama Ivan Teknek, dewa balap liar yang juga berprestasi di ajang balap resmi road race. Ivan tinggal di dekat Aspol di belakang Mall Ratu Indah yang saat itu belum ada. Nama geng motor Ivan Teknek pun sangat legendaris di Makassar pada zamannya, namanya “Jembek” yang kabarnya akronim dari “Jiwa Muda Anak Muda Beken”. Karakter Ivan Teknek mengingatkan pada sosok Bimbim, setidaknya di benak Zolenk. Selain dingin saat membuka tuas gas, Ivan juga cenderum pendiam dan kharismatik. Sederhananya, dia punya jiwa pemimpin layaknya Bimbim di Slank. Gaya bawa motor anak Jembek pun sangat ikonik di Makassar saat itu, dengan posisi badan agak dibungkukkan dan miring ke kanan, sert...

CHAPTER 12: TOURING PERDANA DI USIA 15 TAHUN+

Gambar
Sejak mengenal motor kelas satu SMA, Zolenk sudah jatuh cinta. Bersama Suzuki Crystal, sudah cukup banyak ruas jalan yang dilaluinya. Di tahun 1991, saat motor itu pertama kali dibeli sudah dibawanya hingga Kendari bahkan sempat ke satu kampung terpencil di sana yang namanya pun unik, Desa Pongkaluku. Untuk sampai ke Kendari, ia harus berkendara sekitar 200 km dari kota Makassar menuju Kabupaten Bone terlebih dahulu. Rutenya pun asyik sekaligus menantang yaitu melewati daerah yang namanya Camba, selepas kota Maros. Seingat Zolenk, kawasan Camba ini adalah jalanan lembah yang penuh dengan tikungan. Mirip-miriplah karakter medannya dengan jalanan di Nagreg menuju Tasikmalaya dan Ciamis. Di satu sisi jurang yang menganga dan di sisi lain ada kaki bukit. Sama halnya dengan anak motor pada umumnya, tikungan-tikungan jalan luar kota adalah oasis. Ia adalah panggilan jiwa yang menantang adrenalin masa muda untuk menaklukkannya. Semakin tinggi bukaan gas yang dilakukan, pengere...

CHAPTER 11: SATU RUANG KEJAHATAN YANG MELULUHLANTAKKAN NYALI ZOLENK

Gambar
Apa yang menjadi inti cerita kali ini memiliki istilah yang berbeda di tiap wilayah dan ruang waktu. Saat Zolenk masih bersekolah di Jakarta, kerap diistilahkan sebagai “perek” (perempuan eksperimen), lalu beberapa waktu lalu sebelum era “jaman now” hadir biasa disebut sebagai “jablai” (jarang dibelai). Nah, di Makassar, saat Zolenk masih berseragam putih abu-abu, namanya menjadi “Sokngalak” (demikian jika statusnya disebut). Artinya terlalu kejam buat diartikan ke dalam bahasa Indonesia, tapi ini adalah fakta sejarah di zaman Zolenk kala itu. Setiap akhir pekan tiba, teman-teman seusianya plus kebanyakan yang sudah abang-abang di atas usia Zolenk, kompleks Sosial kerap didatangi oleh dara-dara muda yang cukup cantik. Mereka menghabiskan waktu dengan pemuda-pemuda kompleks yang memang banyak yang gantengnya, kecuali Zolenk tentu. Apalagi secara status sosial, anak-anak kompleks punya orang tua yang status sosial dan ekonominya lumayan baik di atas rata-rata. Seiri...

CHAPTER 10: RAJA JUDI KECIL DAN DERETAN BOTOL BIR

Gambar
Jadi anak bengal itu senantiasa dirindukan tapi sekaligus dijauhi ibarat wabah kolera, bahkan bisa jadi eltor kalau berdasarkan KBBI. Jadi anak nakal itu harus terbiasa menerabas jalan yang berbeda, jalan sunyi tanpa riuh. Buat anak nakal, penggemar sejati adalah dirinya sendiri. Tapi anak nakal setidaknya lebih jujur, itulah kenapa Paman Gepetto tidak memelihara anak nakal tapi anak pembohong. Anak nakal pun terlihat jauh lebih urakan, tidak nampak intelek layaknya Zolenk seperti sore itu. “Hmm, kemana lagi yah?” katanya bingung di depan secangkir kopi di pelataran parkir di depan RS Stella Maris. Tepat di seberang jalan nampaknya “sahabat sejati” yang legendaris, Pantai Losari. Tidak ada senja di sore itu melainkan mendung disertai hujan kecil. “Pasti habis balap-balap kau seng ,” kata Slash, nama beken penjual kopi langganannya. “Tidak, tadi cuma melintas di Tentara Pelajar paggarumbang (baca: bikin ribut) sedikit sama itu,” kata Zolenk menunjuk RGR kesayan...